GENDHIS KEMBANG WANGI
(Menolak Perselingkuhan, Pelecehan Cinta, Dengan Cara Memikat dan Anti Rapuh)
Buku ini saya dedikasikan untuk ratusan, ribuan, bahkan jutaan, wanita yang banyak
mengalami pelecehan, perselingkuhan, direndahkan martabatnya, karena alasan cinta.
Terkadang kita tak mampu untuk berkata tidak secara frontal. Amarah dan emosi yang tak
berkesudahan hanya membuat mental menjadi tergelincir. Menggunakan strategi yang
lembut, tanpa emosi meledak, melawan atribut perselingkuhan dan pelecahan, setidaknya
akan membuat kita para perempuan menjadi kuat. Wanita adalah seluruh lautan dalam
setetes air, bukan setetes air di lautan. Wanita tercipta menjadi mahkluk cantik apapun
bentukya, dari manapun asalnya. Garisnya menghipnotis kaum Adam bertekuk dibawah
lututnya.
Bagaimana isi pikiran anda ketika para pelaku selingkuh seperti suami, kekasih, atau
pasangan kita tertunduk menderita karena perbuatannya, bahkan kemudian berhenti dan
menyerah?
SATU
Suaranya bersemangat tanpa jeda tak ingin disela, menceritakan puluhan gadis muda
yang sudah pernah merasakan penis dan lidahnya. Laki-laki itu menyembunyikan
kebanggaannya lewat tawa meluap. Hari itu juga, beberapa foto bugil dari gadis yang pernah
merasakan uang dan spermanya sudah terkirim dalam whatsappku. Aku tersenyum
memandangi satu persatu foto bugil yang ia kirim, dan mulai berpikir dari mana harus
membuka tulisanku.
“Aku menyukai seni dan keindahan, hal tak yang bisa dipisahkan dalam hidupku.”
Katanya begitu. Ia menjuluki dirinya sendiri sebagai seorang seniman penyuka barang cantik
dan antic. Ia juga mengaku selalu tidur dengan perempuan sangat muda, bentuk tubuh kecil,
payudara, kulit, vagina, pantat, dan klitoris yang indah. Dan akan selalu terobsesi seperti itu.
Apakah ia bersembunyi dibalik seni untuk membenarkan alasannya, aku belum tahu.
Semua aku netralkan dalam tahap mendengar. Benda-benda di atas sangat gurih, banyak
pihak akan mencari alasan bahwa membelai banyak perempuan lain di luar yang sah adalah
hal yang benar. Wanita, apapun bentuknya adalah cantik, layak dihargai, dilayani, dihormati,
karena kecerdasannya tinggi dan punya penjepit penis memukau.
Awalnya, Bonobo memintaku untuk menulis dongeng tentang perjalanan cinta dengan
para perempuan muda yang pernah diajaknya tidur bersama. Aku sempat berpikir tentang
cerita panjang tanpa ending, karena keinginannya belum ingin usai dan tidak habis-habis.
Aku menyanggupi, walau masih gamang. Setiap hari aku memilih mendengarkan ceritanya
sambil membuat coretan kecil. Gambar gadis-gadis cantik tanpa busana dengan beragam
posisi bersama dirinya, mengetuk emailku setiap hari. Foto diri sebagai pembuktian pejantan
tangguh dengan senyum lebar, over percaya diri, karena punya harta dan uang. Aku
tersenyum memandangi foto-foto di depanku tanpa ingin bersuara. Gadis-gadis pemilik
vagina dan sang penyuka klitoris ini tampak begitu senang dengan terpenuhinya alasan
masing-masing. Kedua belah pihak mengatur wajah mereka supaya tampak bergembira di
depan camera. Apakah kalbunya tersenyum atau merintih menahan tangisan, kita tak pernah
tahu. Sebuah gambar cukup menjadi panggung sandiwara yang elok untuk membuat cerita
tentang diri.
Draft tentang kisah perjalanan penis dari Bonobo, yang berumur 71 tahun, mulai aku
buat bertahap setelah beberapa hari kemudian, walau masih membingungkan dan kabur. Aku
lebih suka memberi sebutan untuknya, Bonobo. Unik menurutku, meski tak ada arti dan
simbul yang special. Tingginya sekitar 180 cm, beratnya sekitar 90 kg, wajahnya biasa saja
diusia 71 tahun, rambutnya putih, tinggi semampai dengan ukuran sepatu 44, ukuran penis
tersisa sebesar jempol kakinya untuk saat ini, ia penyuka sek juga belanja. Mencintai
keseimbangan, dan siapapun yang mengkritik tajam atas perbuatannya, bisa dianggap
mengganggu, lalu ia akan meninggalkannya. Bonobo punya ukuran toleransi untuk dirinya
sendiri. Ia seorang yang hangat, ceria, apapun bentuk hubungan baginya adalah sesuatu yang
berharga dan kuat.
Obrolan dengan Bonobo yang juga sebagai pemilik villa Perahu di Bali tentang para
mantan gadisnya, menurutku biasa saja bahkan cenderung ruwet, tidak berujung. Aku ikuti
kemana ia ingin menggiring cerita tentang dirinya sebagai mantan pemilik majalah besar
yang berkaitan dengan mobil balap pada jamannya. Ia juga pernah menjadi pembalap
beberapa tahun, dan masih memiliki beberapa mobil balap pada eranya. Entah kenapa, suatu
hari ia menambatkan perjalanannya membangun villa di Bali. Pertemuannya dengan para
pemilik vagina yang molek, terhormat, sekaligus harganya lumayan murah, membuat Bonobo
semakin betah tingga di Indonsia. Sudah banyak bentuk daging muda yang ditemukan dari
aquarium (tempat pelacuran), hingga site dating, mengikuti perjalanannya sebelum dan
sesudah pembangunan villa Perahu.
Komunikasi melalui telepon dengan perbedaan waktu enam jam tak membuatku
kesulitan. Hangat dan terbuka menjadi kesan pertama yang kutangkap. Emosi kami terlibat
intens ketika ia mendedangkan cerita hidupnya sedikit demi sedikit seperti lagu campur sari,
jatuh bangun karena cinta. Karena tak mudah membangun cerita tanpa melihat atau bersama
secara langsung dengan pemilik karakter. Aku mulai langkahku dengan membentuk
kenyamanan emosi bagi diri sendiri, mengikuti arusnya, dan menemukan cara berpikir
sederhana unntuk menuliskannya. Pemilik penis dari Perancis ini juga masih berhubungan
dengan sebagian mantan owner jepitan penisnya karena sebagian dari mereka terkadang
masih menerima uang pension dari Bonobo.
“Aku masih sering mengirimi uang untuk kebutuhan mereka.” Katanya. “Tak apa,
sekedar membantu, aku juga tak bisa menolak, dan aku orang yang baik.” suaranya tampak
bangga. Aku belum ingin berkomentar, karena aku tak melihat gerakan ekspresinya.
Setelah bernegosiasi cukup mudah, aku menemui beberapa gadis yang sudah pernah
merasakan kenikmatan penis, lidah, uang, dan fasilitas, dari Bonobo. Sekedar berbincang
ringan dan ingin tahu seberapa angka kepuasan mereka pada Bonobo yang meliputi uang
seluruh fasilitas serta kepuasan di atas kasur. Aku lebih suka memanggil mereka
menggunakan sebutan bunga-bunga, bagaimanapun wanita adalah lambang keharuman. Ada
puluhan bunga yang mahkota vaginanya pernah singgah pada bibir Bonobo, dalam beberapa
hari aku hanya bisa bertemu 5 tangkai bunga tak beduri, ada Poppy, Sekar, Canola, Primula,
dan Buttercup. Inti yang aku peroleh untuk sementara, kebaikan dari si penggila vagina masih
mereka kenang selama ada rupiah mengalir. Ketika aku memancing aktifitas di dalam
ruangan atau di kolam renang dan sebagainya, reaksi mereka begini,
“Rasanya sama seperti kalau pelanggan lain melakukannya. Tak ada yang istimewa.”
Katanya. Asal ngangkang aja, pura-pura cinta! Cuan adalah tujuannya!” jawab Sekar salah
satu dari mereka. Apa yang saya harapkan dari laki-laki seperti Bonobo? Sudah tua,
kelakuan dan wajahnya aneh.” Sekar menambahkan.
“Tidakkah kamu ada rasa cinta?” tanyaku tersenyum.
“Cinta??!!” Sekar diam sesaat. “Sangat munafik kalau saya ngomong mencintai dia
tanpa embel-embel.” Katanya. Aku masih diam menyimak wajahnya, sambil menikmati
camilan di cafe siang itu. “Saya hanya butuh kehidupan mapan dan uang. Polos Sekar
bicara. Aku memandangi matanya. Rasanya memang hambar cinta tanpa dibumbui rasa tai.
Sekar mencoba jujur diantara kegusaran hidupnya. Memainkan seni rasa dengan indah hingga
mengecoh jiwa Bonobo.
“Satu lagi, saya nggak pernah tahu dia ngomong apa karena saya nggak bisa bahasa
Inggris.” Sambungnya diiringi tawa kami berdua. “Jadi ya.. bodo amat Bonobo ngomong
apa.tambahnya dengan wajah datar. “Yang penting saya jalan telanjang mondar mandir di
hadapannya, sudah pasti besok akan belanja besar.” Sekar tertawa ringan.
Dalam ilmu tarot si bodoh biasanya selalu menang, karena dia bisa jadi siapa saja.
Pada akhirnya Sekar memilih selingkuh dengan laki-laki yang lebih dia cintai dengan cuan
lebih legit. Bonobo memutuskan hubungan dengan Sekar secara tidak hormat bahkan tragis
ketika ia mengetahui drama di belakang punggungnya. Aku tak menyalahkan Sekar serratus
persen, karena Bonobo sebenarnya juga tidak fair, menurutku. Ia tetap menjalin hubungan
dengan bekas kekasihnya Lily dan mengirim uang tiap minggu. Sekar mengetahui kisah kasih
di belakanya, dia berusaha menegur Bonobo, namun semuanya tak pernah usai. Bonobo
selalu membela diri untuk benar dengan puluhan alasan yang menurut Sekar menyebalkan.
Sekar memilih mengalah dan memanfaatkan Bonobo semaksimal mungkin untuk
mendapatkan keuntungan besar sebelum melompat. Sekar merasa Bonobo tak pernah punya
cinta yang utuh.
“Aku akan menuntut motor yang sudah aku belikan atas namanya untuk dikembalikan
padaku!” nada Bonobo meninggi dan meledak bercerita kepadaku tentang motor yang sudah
di berikan ke Sekar. Aku memilih mendengarkan umpatan emosinya tanpa ingin berpendapat.
Karena aku hanya mendengar dari satu pihak tentang motor itu.
Aku melihat sendiri bagaimana Bonobo mengumbar semua yang sudah diberikan ke
Sekar, dari hal kecil hingga jumlah uang yang sudah ia tanam ke vagina perempuan manis
itu. Semua teman Bonobo yang ada di Indonesia mendapatkan cerita pendek lewat whatsapp
plus foto-foto telanjang Sekar saat telepon video dengannya. Artinya wajah Bonobo juga
tampil sebagai artis saat telepon video lalu di tangkap layar. Menyedihkan dan
memprihatinkan. Siapa sesungguhnya yang malu dan mendapat komentar miring dari
penerima gambar seni itu? Sekar menjadi terkenal karena masih muda, seksi dan eksotik.
Sekar tidak membalas hal memalukan yang dilakukan Bonobo padanya. Menurutku, Sekar
lebih punya mental kuat walau dia tak bersekolah. Sedang Bonobo, cukup banyak mendapat
komentar satir dari banyak orang, memilukan.
“Ohh, sorry.. kisah kamu tragis sekali.. mudah-mudahan kamu bisa dapat pacar baru
di usiamu yang makin tua..” begitu isi komentar mereka yang dikatakannya kepadaku.
Bonobo punya kesulitan untuk mencintai wanita dengan sungguh-sungguh, karena ia selalu
memikirkan tubuh perempuan lain dalam otaknya.
Beda lagi cerita Canola, “Saya nggak mau di cium karena mulutnya bau, nggak mau
di jilati, juga nggak mau sentuh penisnya aki-aki (kakek-kakek), bau dan geli!” katanya.
“Yang penting nemeni dia jalan, pura-pura happy, memujinya, setelah itu rupiah mengucur!”
tambahnya.
Kamu menikmati dan senang ketika jalan bersamanya?” tanyaku tersenyum.
“Saya lebih tertekan, karena saya masih sangat muda, usia kami terpaut 50 tahun
lebih. Dia lebih tua dari kakek saya.” Imbuhnya.
“Bagaimana dengan urusan uang?” tanyaku lagi
Bonobo mudah sekali mengeluarkan uang untukku.” katanya lagi. Aku tersenyum
menyimak cerita Canola. Kisah kasih Bonobo dan Canola berakhir setelah Canola dalam
waktu singkat berhasil mendapatkan banyak cuan dari Bonobo. Canola memilih kembali pada
rutinitasnya sebagai gadis penghibur untuk tuan-tuan yang membutuhkan vagina lain di luar
istri atau pacar sah.
“Apakah kamu menyesal berpisah dengan Bonobo?” tanyaku.
Canola diam sejenak, “Aku berterimakasih sudah bertemu Bonobo dan mendapat
keuntungan besar hanya dalam hitungan bulan.” Jawabnya menatapku. “Tidak berlu
menyesal, karena kehidupan cinta Bonobo dengan wanita lain tak akan pernah selesai.
Jawabnya tenang.
“Apakah selalu seperti itu?” tanyaku.
Canola diam sejenak, Ia meninggalkan perkawinannya dan memilih perempuan
muda sepertiku, berpindah dari vagina satu ke lainnya seperti membeli mainan di warung.”
Canola memandang jauh. Bahkan ia juga berselingkuh dengan sahabatku ketika kami berdua
masih menjalin hubungan.” Canola tersenyum tipis memandang saya lalu menunduk.
“Apakah kamu meletakkan cinta padanya?” tanyaku.
“Saya tidak ingin meletakkan cinta padanya, karena dari awal saya sudah melihat
keruwetan cintanya.” Canola berkisah. “Bonobo selalu mondar mandir mencari tubuh dan
vagina lain.” Canola menambahkan dan kami berdua tertawa. “Saya membutuhkan penis dan
bibir yang setia.” Katanya diiringi tawa kami berdua.
Buttercup, tampak lebih santai dan ceria, “Hahaha… saya tak pernah mencintai
Bonobo, saya hanya membutuhkan uangnya.” Jawab Buttercup sambil tertawa lepas. Kalau
untuk pura-pura mengatakan “I LOVE you” sangatlah mudah.” Tambahnya sambil
tersenyum lebar.
Apakah Bonobo menyukai sanjungan?” tanyaku
Sangat! Bonobo hanya butuh ucapan atau sentuhan mesra, seterusnya aliran uang
akan mudah.mata Buttercup memandang jauh. “Sampai hari ini saya masih menjaga
hubungan dengan Bonobo karena saya masih membutuhkan uang darinya.” Dia
menambahkan tanpa aroma busuk.
“Kalau Bonobo mencintaimu, kenapa ia tak mencoba setia?” tanyaku
Buttercup tersenyum sedikit satir, Ia akan terus berkelana mencari vagina lain hingga
kematiannya.” Buttercap menatap sinis dan kosong.
Bonobo sangat mengagumi wajah Asia dengan kulit eksotik dan tubuh aduhai. Tak
peduli berapa jumlah uang yang harus dikeluarkan, puluhan bahkan ratusan juta, ia akan
membayarnya. Ketika hubungan kandas ke alas kaki, tak jarang Bonobo mengumbar aibnya
sendiri bersama sang gadis, “Dia tidak bagus diatas tempat tidur, tapi bentuk tubuhnya indah,
tidak apa-apa saya keluar uang untuk semua kebutuhannya.” begitu kalimatnya di telepon
bercerita tentang Buttercup. Apakah Bonobo menyembunyikan rasa nyeri, aku belum tahu
karena aku belum melihat sorot matanya.
“Mungkin saya bermain sex dengannya hanya empat kali, karena dia tidak pernah
mau saya cium. Tapi karena kaki dan vaginanya bagus, saya tak kuasa menolak untuk
membelikan apa yang dia mau, termasuk rumah.Ia berkomentar tentang Canola. Nafasnya
terdengar berat, mungkin ada penyesalan.
“Saya akan meminta dia mengembalikan sebagian uang saya.” sambungnya dengan
emosi terbakar tiba-tiba, membuatku sedikit bingung. Bonobo lupa telah tercebur ke
jumbleng karena langkahnya sendiri, dan ia akan menggali tempat penampung tai itu untuk
mengambil makanannya kembali.
Bonobo selalu berusaha mati-matian menjaga gengsi di depan para pemilik vagina
muda, walau kadang harus pontang-panting menutup kekurangan. Tak ingin menolak segala
kebutuhan penjepit-penjepit itu. Mendapatkan gadis belia dengan perbedaan umur signifikan
bahkan hingga 50 tahun, membuat kesombongannya di depan orang terbang hingga lupa
mengontrol diri. Ia berpikir membawa gadis muda adalah sebuah kemewahan. Sebaliknya,
orang tertawa di belakangnya, bahkan beberapa orang memberi sebutan “Mister Pepek Bau.”
Sekali lagi, wanita adalah makhluk pintar dan unik. Mereka juga tahu keinginan dan
kelemahan Bonobo. Cukup berada di sebelahnya, menahan rasa risih ketika tubuhnya
disentuh di depan umum, membuatnya tertawa, berpura-pura mencapai orgasme ketika
terpaksa vaginanya berada di bibir Bonobo, maka cuan mengucur seperti air seninya.
Keahlian bermain drama gadis-gadis muda nan cantik ini cukup memikat pikiran dan hati
seorang kakek seperti Bonobo. Sebuah model transaksi saling setuju dari kedua belah pihak,
semuanya sah, jadi tak perlu ada olok-olok atau kebencian. Apakah segala kerunyaman
Bonobo dengan bunga-bunga wangi itu tak menguras pikirannya? Aku tak yakin. Semua
yang melampoi batas pasti selalu memberi efek. Aku lebih suka melanjutkan draft kecil yang
belum usai. Karakter tokoh Bonobo masih simpang siur.
@@@@@
Sore itu, ada berita tak terduga dari Bonobo, jantung seniman klitoris ini tidak bekerja
sesuai dengan keinginannya sehingga harus segera menjalani operasi. Ia kemudian
mengundangku datang ke Perancis untuk menjadi perawatnya. Aku memang sedang
membutuhkan pekerjaan untuk melanjutkan hidup, juga ada tanggung jawab yang harus aku
selesaikan untuk sang buah hati di semester menjelang akhir kuliahnya. Setelah masa
pagebluk covid, semua harus berhenti dan itu menyulitkan. Aku dan dirinya sepakat dengan
pembayaran yang berkaitan dengan perawat, dan membatalkan sementara kontrak tentang
penulisan. Buatku tak ada yang harus di permasalahkan, aku bisa merubahnya menjadi cerita
berbeda.
“Ini akan menjadi sangat menarik.” Batinku kala itu.
Aku, Gendhis 54 tahun, penyuka hujan, suara burung pagi, gemercik air hingga
deburan ombak. Selalu menunggu bulan, bintang, karena mereka feminine dan punya energi
tinggi. Melewatkan malam berdialog dengan Tuhan walau hanya 10 menit, sekedar mencari
cahaya untuk langkahku. Kakakku yang sudah meninggal lebih suka menjulukiku kuda
hitam, karena tenang dan misterius, serta selalu bekerja di balik layar. Sementara ibuku
menyebut hatiku seperti air, mudah terluka, namun harus berhati-hati untuk yang
meremehkan dan melukaiku. Kebetulan aku menyukai ketiga benda itu, bulan, air, dan kuda
hitam.
Sedikit kilas balik tentang pertemuanku dengan Bonobo. Kala itu aku sedang
mendapat orderan dari mereka yang peduli dengan pendidikan PSK (Pekerja Sex Komersial),
untuk mengajar baca, tulis, berhitung, sedikit bahasa inggris, dan tambahan pengetahuan
umum, memberi motivasi mereka. Banyak dari mereka hanya bersekolah hingga kelas 2 SD,
bahkan ada juga yang tak pernah duduk di bangku sekolah. Tiga bulan lebih aku bersama
mereka bunga-bunga cantik, satu minggu empat kali pertemuan dari pagi hingga siang,
kemuian malam hari mereka kembali bekerja dengan caranya. Hampir tak ada orang
menghargainya. Aku memberi nama kelasku Kembang Wangi. Kelas dengan suasana
terbuka, seadanya dengan angin semilir dekat pantai yang tak begitu ramai. Tentu saja aku
harus sedikit menyembunyikan mereka terkait dengan hal senditif ini. Berdekatan dengan
mereka layaknya seorang teman dalam belajar, membangun keakraban sekaligus
menumbuhkan komunikasi yang nyaman, rasanya lebih manusiawi buatku.
Protea namanya, umurnya 23 tahun, dia salah satu bunga di kelas kami, badannya
mungil, kulitnya eksotik, wajahnya manis, dan gadis yang sangat ceria di kelas. Dia bercita-
cita menjadi pemain sinetron tv. Protea bersekolah hingga kelas 2 SD dan harus ikut memikul
beban ekonomi keluarga karena ayahnya yang menjadi petani meninggal karena TBC ketika
Protea berusia 12 tahun. Protea masih punya dua adik. Ketika berumur 17 tahun dia terpaksa
menikah untuk alasan ekonomi. Kemudian umur 19 tahun suaminya memilih perempuan lain
yang ekonomi dan bentuk pinggangnya lebih menarik. Satu anaknya yang masih bayi
ditinggal begitu saja bersama Protea. Secara materi otak, dia pintar menurutku, cepat
menangkap pelajaran, dan selalu menjadi nomor 1 di kelas setiap harinya. Aku sempat
berkeinginan memberikan biaya untuknnya agar bisa mengikuti kejar paket A, B, hingga C
untuk mendapakan ijazah. Suatu hari, ketika sedang berlangsung pelajaran bahasa Inggris,
tiba-tiba dia mengangkat tangan meminta ijin untuk menelpon mantan kekasih yang telah
ingkar janji padanya.
“Ibu, saya boleh menelpon mantan kekasih saya yang hobinya ngumpulin susu
perempuan di kolam renang? Aku terbengong menatap mimiknya yang polos, lucu, dan jujur.
“Dia ingkar janji pada saya, karena saat itu saya masih bodoh.” Protea santai meminta ijin
dan di sambut tawa yang lain.
“Sekarang kita sudah pintar, ya Prot?!. komentar yang lain.
“Karena sekarang kita sudah mengenyam bangku sekolah, makanya aku berani
menagih janji dia, sekalian aku mau tunjukkan ke dia bu guru kita yang cantik.” Protea
menjawab komentar temannya.
“Protea, umur dia berapa?” tanya yang lain.
“Masih muda, waktu itu 69 tahun, saya sudah 2 tahun putus, berarti sekarang 71
tahun.” Jawabnya santai sambil berhitung dengan jari di depan teman-temannya. Tentu saja
suasana di kelas menjadi riuh. Aku tersenyum lebar memandanginya.
“Lalu waktu itu umurmu berapa?” tanyaku sambil mengajarinya berhitung dan
membuka pikirannya kala itu.
Protea diam sejenak, berpikir sambil menghitung dengan jarinya, “Hmm, 21 tahun,
Bu.” Jawabnya sambil matanya menatapku dan otaknya memikirkan sesuatu. “Gila, itu kakek
kurang ajar, berarti pedofil dong monyet itu dengan saya..” komentarnya santai tak peduli
dengan tawa yang lain. Aku menarik nafas panjang, menghampiri, dan mengelus rambutnya.
“Lagi pula umur segitu seharusnya sudah naik keranda hijau, Prot!!celutuk yang
lain.
“Dia pinginnya keranda warna biru, karena penyuka biru.” Jawabnya tak peduli.
“Bu, saya boleh naik diatas kursi?” Tanyanya santai seperti ingin menjadi artis.
“Silahkan, dan tunjukkan kemampuan kamu menjadi artis teater sesungguhnya.”
Pintaku tersenyum lebar.
Protea lalu naik diatas kursinya disambut tepuk tangan yang lain dan memulai
dialognya. “Mantan kekasihku ini tak hanya sudah beraroma kuburan, tapi Masya Alloh
mulutnya juga bauuu.” Katanya santai, kami sekelas terbahak mendengar cara bicara Protea.
“Begitu juga dengan penisnya, ketika dia membuka celana, saya selalu ingin muntah karena
pasti mencium bau keju kedaluwarsa.” Ia masih berbicara santai dan kami makin terbahak.
Expresi Protea tetap tenang. Sekali lagi, karena kebutuhan cuan, aku relakan tubuhku yang
sudah jadi pelacur ini melayani tuan-tuan yang punya hati seperti orang hutan.” Kembali
gayanya mempesona dan tepuk tangan di kelas menjadi riuh.
“Luar biasa cantik bunga satu ini.” Aku membatin
“Kalau Bu guru menceritakan bagaimana pahlawan Daan Mogot berjuang untuk
kemerdekaan Indonesia hingga meninggal, lalu di makamkan bersama rambut kekasihnya,
karena cinta, yang ini beda!” Protea bak pemain teater, tanpa canggung. Aku tersenyum
lebar, dia mendengarkan pelajaranku dengan baik tentang Daan Mogot.
“Bedanya apa? Coba!” tanya yang lain menunggu reaksi Protea.
Ketika mati, mantanku ingin terkubur dengan rambut vagina alias jembut dari
pelacur-pelacur yang pernah di tidurinya.” Suaranya menggelegar tanpa ekspresi dan tawa
kami sekelas tak bisa ditahan. “Boleh diteruskan, Buk?” dia bertanya
“Silahkan, kita semua saling belajar.” Aku tersenyum padanya.
“Ketika kelak mantanku mati, dia juga ingin dibuatkan monumen batu telanjang
bersama pelacur yang menghisap penisnya.” Ekspresinya sangat tajam, membuat kami
terdiam. “Dia berpikir, semua wanita akan kagum saat melihat patung brutal itu.” Protea
berdialog dengan mimik megah. “Dia lupa, yang sesungguhnya ditinggalkan manusia adalah
apa yang terjalin dalam kehidupan orang lain.” Dia berdiri diam berexpresi manis,
memandangiku. Teman-temannya memberi tepuk tangan seru.
“Teruskan.Kataku sembari memberi hormat padanya.
“Satu lagi Pelajaran dari Bu guru tentang Atlantis kota hilang yang memukau
peradaban seluruh jagad raya dari filsuf Plato.” Aku kagum padanya. “Beda lagi dengan
mantanku, Atlantis baginya adalah keindahan dan gurihnya gadis belia.” Katanya, dan isi
kelas menjadi cekikikan.
“Ada kesamaannya nggak?!” tanya yang lain.
”Tentu ada! Kesamaannya, dia juga akan tenggelam dan lenyap dari muka bumi
karena kepongahan, kesombongan, dan perbuatannya melecehkan para wanita.” Aku pun
memberi tepuk tangan diikuti yang lain.
”Masih lanjut?” tanyaku.
“Sedikit lagi, Buk” jawabnya sambil hormat meminta ijin. “Untuk siapa saja yang
menjadi kekasihku, jangan kirimi aku bunga saat jiwaku sudah terkapar di liang lahat, jika
kamu mencintaiku, kirimi aku rangkaian kembang tercantik saat nafasku masih berhembus
seperti angin.” dia mengakhiri monolognya, memberi hormat bersamaan tepuk tangan dari
kami semua.
“Protea, kamu harus sumbangkan mainan lama itu pada yang membutuhkan.” Celutuk
teman yang lain.
“Anggap saja aku dan dia adalah manusia asing dengan beberapa kenangan.
Jawabnya pintar. “Aku merelakannya, karena ada daging lain yang memerlukannya.”
Tambahnya. Disambut tawa yang lain.
“Aaawwww, so nice!” aku berkomentar dan menghampiri lalu memeluknya.
Satu menit kemudian, Protea menghubungi mantan kekasihnya menggunakan telepon
video, dengan volume maksimum. Dia sudah prcaya diri menggunakan bahasa Inggris.
Hello darling, how are you??” Protea bergaya dengan bahasa Inggris. Saat besamaan aku
mengirim pesan pada seseorang supaya membelikan buket bunga untuk kebahagiaan Protea,
dengan text untuk tulisan di kartunya juga aku kirimkan.
Hi, Protea! I haven’t seen you for a long time!. I am good! How are you?” tanya
sang mantan kekasih bersorak lapar melihat Protea yang seksi. Suasana di kelas menjadi
tenang karena ingin mendengar Protea.
“Bu, apa artinya tadi?” tanya Protea ada kalimat yang tak di mengerti. Aku lalu
menterjemahkan dengan cepat.
“I am good, i can speak english now, little! little!” Kata Protea unjuk dada.
“Amazing!! You are also more beautiful and clever!” kata sang mantan kekasih
merayu. “I miss you, Protea!” sambungnya
“Tai! Dia merayumu, Protia!” komentar teman yang lain, aku masih menyimak.
“Buk apa celver!” Protea bertanya padaku.
“Clever.. pintar!” jawabku tersenyum lebar.
Yes, i celver! You promise to me, give money money!!” Protea tak peduli dengan
kata yang salah, ia menagih janjinya pada sang mantan orang bule.
“Yes, i have one month’s debt to you.” Jawabnya sang mantan mengakui. Aku
langsung menterjemahkan ke Protea, karena aku tahu dia tak paham. I promise i will give
you money when we meet in Bali.” Janjinya. Kembali aku menterjemahkan ke Protea.Protea
juga menunjukkan wajah sang mantan pada yang lain.
“Allaaaaa... janjinya gendruwo..!” komentar teman-teman Protea.
“Wajahnya masih gantengan bapak gue! Biar bapakku Cuma tukang beca!” celutuk
yang lain.
“Aku akan menagih janjimu walau aku sudah dimakamkan, dan aku akan menjadi
hantu buatmu, karena kamu pernah merendahkanku.” Protea nampak serius kali ini. Aku
sedikit merinding mendengarnya. “Buk, terjemahkan ke Dugong ini.” Protea minta tolong,
lalu memberikan hp di depanku.
“My teacher.. my teacher.” Kata Protea. Aku lalu menterjemahkan apa yang
diinginkan Protea ke sang mantan dengan sopan. Dia menutupi rasa malunya dengan bereaksi
cengar cengir dan menjawab okay.
“Buk, ganteng kan?” Protea bertanya sekaligus menyindir
“Hmm... Ibu lebih enjoy menikati rasa kopi pahit dibanding harus melihat matanya
yang bengis.” jawabku.
“My teacher beautiful and sexy.” Protea lalu bicara kembali pada mantan
“Yes, your teacher beautiful and clever!” katanya membuatku tersenyum sinis.
“Halaahh celver... celver ya buk...manis mulutnya, hatinya busuk seperti aroma
penisnya..!” celutuk murid yang lain tanpa peduli. Kami pun tertawa, dan Protea mengakhiri
pembicaraan dengan bekas kekasihnya.
Protea lalu menghampiriku, “Ibu orang pintar, permalukan dan rendahkan dia seperti
dia merendahkan wanita-wanita seperti saya, walau saya cuma pelacur.” Katanya dengan
mata berkaca-kaca menatapku. Aku bingung dengan maksud dan keinginan Protea, juga tak
tahu harus menjawab apa,
“Tenangkan pikiranmu, kalau dia malu, dia akan kirim uang ke kamu. Tapi kalau dia
tidak bayar, belajar menerima dan dia akan kehilangan banyak.” Hanya itu pesanku pada
Protea. Semua di kelas menjadi sunyi.
Saya tidak memikirkan dia membayar atau tidak, Buk.. saya hanya sakit karena
kesombongannya, bagaimana ia merendahkan saya bersama banyak pelacur lain di depan
saya...” aku terdiam dan menarik nafas berat. Matanya memohon kepadaku dengan amarah
yang luar biasa.
“Apa perlakuan terburuknya kepadamu?” tanyaku lembut
Protea diam sejenak, matanya menerawang kembali pada bekas kekasihnya,Saya
dipaksa melihat dan ikut melayani bersama 6 pelacur lain yang diundangnya malam itu,
bersama 1 teman bulenya yang baru datang.” Katanya membuatku memeluknya. “Kemudian
datang lagi 2 pelacur lain, kami menjadi seperti binatang, walau saat itu status dia
kekasihku.” Sambungnya. “Setelah malam itu, saya pergi dan hubungan kami yang berjalan 4
bulan semua berakhir.” Aku melihat mata Protea mnyimpan dendam tak berkesudahan.
“Protea, emosi adalah bagian alami dari manusia, kamu memiliki hak merasakannya.”
Kataku padanya.
“Pemalukan dia dengan cara pintar Buk, hingga mantan Protea yang gantengnya
kayak kadal itu mati ngenes.” Murid-murid memintaku.
Aku tak berani janji apapun. Alam yang akan menuntunku. “Buat dia benar
kehilangan orang yang benar baik dan mencintainya, sampai ajal menjemput.” Pintanya
kepadaku. Aku masih terdiam. “Ibu harus lebih baik dari semua mantannya dan lebih baik
dari pacar berikutnya.’ Dia menambahkan seraya tersenyum cantik. Aku terkesan dengan
kalimatnya. Dia mencium tanganku lalu Kembali ke tempat duduknya.
Tiba-tiba Stevia, murid lain di kelas berbicara padaku setelah minta ijin untuk
bertanya terlebih dulu, “Kemarin saya kan punya pelanggan, Buk.” Aku mendengarkan
Stevia, “Orangnya manis dan baik, lalu saya jatuh cinta padanya.” Katanya cuek. Sahutan
seru dari teman yang lain di kelas tak bisa dihindarkan.
“Lalu.. cintamu terbalas?” tanyaku.
“Nah... ini dia Buk.. cinta saya bertepuk sebelah kaki, dia malah lari dan saya jadi
patah hati.” Tawa di kelas kian menyeruak.
“Stevia, jika seseorang tak merespon perasaanmu, itu adalah haknya.” Jawabku. “Jadi,
berhenti membuang energi pada sesuatu yang tak bisa di ubah.” Sambungku. “Hidupmu
adalah milikmu, kamu yang punya kendali untuk menjalaninya.” Aku mencoba membuka
pikiran Stevia dan yang lain, mereka terdiam mendengarkanku dengan baik. “Dandan yang
cantik saja, supaya orderan makin ngantri, dan cuan melimpah.” Aku mengakhiri jawabanku
untuk Stevia, disambut riuh yang lain.
“Sudah saya catat untuk bikin status di profile saya, Buk.” Jawabnya sambil menari.
“Ada lagi pertanyaan sebelum pelajaran lain?” Tanyaku.
“Ada, Buk.” Peony mengacungkan tangannya. “Kenapa yang disebut pelacur bahkan
yang di jual di aquarium seperti kita itu hanya perempuan?” pertanyaan yang tajam.
“Sedangkan menurut saya, tuan-tuan yang memakai kita itu sebenarnya juga pelacur.”
Analisanya tidak salah. Mereka membohongi, merendahkan, dan melecehkan orang yang
mencintainya.” Tambahnya lagi.
Aku diam sejenak memandangi semua murid-muridku yang hadir hari itu ada sekitar
36 siswi, semua mendapat julukan pelacur dan perempuan. “Begini bunga-bunga yang cantik,
kalian adalah kupu-kupu malam terindah.” Kataku pada mereka. Kalau penyedia jasa
pelacuran itu memajang tuan-tuan di etalase, maka harga hot dog akan turun drastis, juga
termasuk harga sosis pasti ambyar.” Jawabku. Mereka berteriak senang dengan jawabanku.
“Jadi, harga tuan-tuan yang memakai tubuh kalian itu sebenarnya sama dengan harga?” aku
bertanya balik pada mereka.
“Sosis dan hot dog?” jawab mereka serempak dan keras. Lalu kembali aku
melanjutkan pelajaran, hingga kelas berakhir.
Sebelum mereka pulang, pesanan buket bungaku untuk Protea datang. Kehebohan di
kelas tak bisa digambarkan lagi, hati murid-murid yang baik itu seolah ambyar dan Protea
menangis haru. Protea dan semua murid membaca tulisan kartu warna putih yang tersemat di
rangkaian bunga,
Dear, Protea.
”Wahai kembang yang sedang mekar, ketahuilah, kita ini kaum Perempuan yang
layak dimuliakan, karena hanya kita si empunya vagina sebagai daya cipta tempat wisata
tersembunyi yang sungguh memikat hati, otak, dan jiwa kaum tuan-tuan. Mereka akan selalu
mencari dan mencari kita. Yang menghentikan pencarian mereka adalah kematian.
Dari, Kelas Seni Kembang Wangi.
“Ibuk, hari ini menjadi hari terindah saya, terimakasih tak terhingga ibu sudah baik
dan ada untuk kami.” Air mata tulus mengalir membasahi pipinya. “Saya akan selalu
menyimpan tulisan ini hingga aku mati.” katanya dengan tatapan kosong, aku tak pernah
mengerti maksud Protea.
“Kalian wanita-wanita hebat, menerjang kehidupan tak normal, berpijak kuat pada
kaki dan hati yang rapuh.” Mataku berkaca-kaca sambil memeluk mereka semua yang
mengerubungiku.
Hari itu terakhir aku bertemu Protea. Keesokan harinya Protea sudah tidak datang ke
kelas, karena harus di bawa pulang oleh keluarganya ke desa, setelah satu minggu
sebelumnya dokter menyatakan Protea terkena HIV. Aku dan lainnya hanya diam,
menyempatkan waktu beberapa detik berdoa untuk Protea. Hari-hari tanpa Protea di kelas
suasana menjadi agak berbeda. Bunga ayu dan lincah itu seolah lenyap di telan bumi tanpa
ada yang tahu kabarnya, kami rindu kelucuannya. Dua bulan kemudian aku mendapat kabar,
Protea telah meninggal karena HIV. Hatiku runtuh kala itu, walau kematian adalah bagian
dari kehidupan. Mengingat wajahnya selalu ceria di kelas, Protea yang seharusnya bisa
mendapatkan ijazah persamaan hingga SMA. Teman-teman di kelas menangisi kepergian
Protea. Hingga tiga hari, suasana di kelas berubah seperti duka.
”Kita terlahir hanya dengan satu cara, tapi kematian menjemput dengan berbagai
cara.” Aku membuka Pelajaran hari itu dengan suasana sunyi. “Kematian hanya mengakhiri
hidup, bukan hubungan juga bukan janji, Protea akan selalu kalian ingat.” tambahku, karena
kami tak tahu dimana Protea di makamkan. Aku tak henti memikirkannya hingga hari ke
tujuh.
Tiga bulan setelah kematian Protea, aku menerima pesan pendek dengan kode area
negara Perancis. Pada awalnya hanya mengatakan sedang membutuhkan seorang penulis dari
Indonesia dan mendapatkan nomorku dari seseorang yang tak dikenalnya. Beberapa kali
setelah berkomunikasi, akhirnya Ia minta ijin melakukan panggilan dengan video calls.
Akupun berpikir kenapa tidak. Aku tersentak kaget saat melihat wajah seorang laki-yang
menyapaku. Ia adalah mantan kekasih Protea yang kemudian aku panggil Bonobo. Dirinya
tak mengingatku sebagai guru yang pernah mengajar Protea, dan juga tak pernah tahu bahwa
gadis muda yang pernah dipacarinya telah meninggal. Sebelumnya aku sempat ragu karena
ada sedikit keanehan, namun kemudian tergeser dengan naluri dan logiku untuk berpikir
positif. Ada arus kuat dalam benakku untuk menerima tawaran menjadi penulis kisah
Bonobo, hingga kami berdua membuat kesepakatan harga. Aku sengaja tak ingin
menyampaikan berita tentang Protea padanya, karena aku ingin tahu apa yang sesungguhnya
terjadi. Bonobo bercerita dan bertanya tentang Protea setelah 8 bulan aku bersamanya. Aku
tak pernah tahu hingga hari ini siapa yang sebenarnya menghubungkan aku dengan Bonobo.
@@@@@
Eropa selalu menjadi mimpiku, karena aku menyukai sejarah dan budaya dari sejak di
sekolah SMP. Aku menjawab setuju setelah 15 menit berpikir. Meyakini, lebih mudah
mengenal dan membawa emosi Bonobo dalam paragraph-paragraph dengan mendekat
padanya secara nyata, walau kesepakatan tulis menulis tentang dirinya batal. Kemampuan
emosiku dan Bonobo bergerak sedikit melampoi kecepatan rata-rata. Rasa ingin tahu dan
memahami kebutuhan imajinasi vagina yang dinginkan Bonobo cukup menarik, menurutku.
Aku melemparkan pancingan menggunakan tulisan pendek untuk menggugah gairah
penisnya setiap hari, tanpa berpikir pelik. Bonobo merespon sangat senang karena ia
mencapai orgasme cukup berimajinasi dengan tulisanku. Semua aku lakukan dengan spontan,
menggoda, iseng, dan ia tak pernah tahu isi benakku, dan aku juga melakukannya tanpa rasa.
Ada hal tak terduga ketika Bonobo mengatakan mengundang pemijat plus plus karena
tulisanku, supaya ada vagina yang bisa dilumat lidahnya. Tulip, namanya. Ia punya hak
penuh atas apa yang ia inginkan.
Gendhis, aku mengundang Tulip untuk memijat dan tinggal beberapa hari di rumah.”
Katanya dengan bangga bersama emosi yang datar. “Tulisanmu membuat saya gila!”
sambungnya sambil tertawa.
“ooh ya...?! luar biasa!” aku menyanjungnya supaya ia makin merasa dirinya hebat,
walau sesungguhnya biasa saja menurutku.
Ketika ia bercerita tentang Tulip si pemijat badan dan penis berdarah Asia, aku
menangkap keanehan emosi dalam diriku, walau sedikit. Jenis emosi yang tak jelas
bentuknya, tapi cukup mengganggu.
“Apakah aku terpeleset dengan tulisanku sendiri?” aku membatin dan tersenyum lebar
setengah tertawa.
Aku biarkan semua berlalu sambil mengikuti jalannya pergantian malam tanpa ada
kerisauan. Berpikir cuek dan tak peduli kadang diperlukan untuk memberi pecutan pada
diriku sendiri agar lebih focus pada hal lebih penting.
Surat undangan dari Bonobo untuk keperluan visaku sudah tiba lewat post express.
Janji temu di kedutaan Perancis melalui perwakilannya juga sudah dibuat. Urusan yang
menyangkut wawancara dan biometric cukup dimudahkan bagiku oleh Yang Kuasa. Dalam
dua minggu aku sudah mendapatkan visa 90 hari untuk tinggal di Perancis.
@@@@@
Tak ada keraguan dalam diri ketika aku duduk di ruang tunggu keberangkatan satu
jam sebelum pesawatku terbang menuju Amsterdam lalu Bordeaux Perancis. Hanya ada
sedikit rasa membingungkan dalam diri yang tak bisa aku cerna dengan otak. Rasa berharap
cinta dan aroma tai muncul setelah keakraban dengan Bonobo. Pada titik ragu ini, aku
memutuskan untuk menjalani yang harus aku jalani, bertanggung jawab atas pilihanku,
hidupku harus terus berjalan.
Singkat cerita, Keberangkatan dan penyambutan oleh Bonobo setelah tiba di
Bordeaux-Perancis sangat baik. Aku tak mengalami kebingungan atau jetlag, karena
kebetulan juga aku sudah sering terbang jarak jauh ke luar negeri. Senyumku mengembang
melihat wajah Bonobo yang tua, lucu, rambut putih, berdiri di pintu penjemputan. Fisiknya
jelas seuai umurnya, bahkan lebih tua. Sementara, ia selalu bercerita bahwa semua gadis-
gadis muda memuja wajahnya lebih muda dari usianya. Aku tersenyum menatap wajah
keriput di hadapanku dan membatin,
Para gadis muda yang pintar itu menginginkan uang untuk isi dompet dan supaya isi
tabungannya bertambah, karena itu mereka akan selalu membutakanmu dengan pujian
imitasi.” Begitu bunyi senyumku tanpa berkomentar. Bonobo menginginkan puji-pujian
setiap saat untuk membawa mentalnya ke langit, walau pujian yang ia terima tak selalu jujur.
Menyedihkan sesungguhnya. Kami berpelukan sesaat sekedar cipika cipiki.
Dari bandara menuju rumahnya butuh waktu sekitar 1 jam dengan kecepatan rata-rata
90 km per jam. Dalam waktu beberapa menit aku sudah jatuh cinta dengan udara bersih,
alamnya, jalanan bagus, serta betapa disiplinnya dijalanan Perancis. Budaya tak bisa ditutupi.
Rumah-rumah cantik bersanding dengan hutan, halaman luas, dan begitu asri. Imajinasiku
bergerak sedikit tak terkendali membelah alam liar di hadapanku. Keinginanku untuk punya
pacar laki-laki Eropa mendadak merayap masuk dalam otakku, nakal. Walau sebelumnya aku
sudah pernah bertunangan dengan laki-laki dari Eropa, dan ambyar karena pagebluk Covid
merajalela tak terbendung.
“Bagaimana perjalananmu? Tanya Bonobo sambil memegang tanganku.
“Semua baik, aku juga cukup tidur di psawat.” Jawabku tanpa ingin berdebar.
Tiba di halaman rumahnya semua tampak biasa saja, berbentuk apartmen kotak kubus
cukup luas, dan ada dua lantai. Keluar dari mobil, aku diam sejenak melihat sekitarku. Ada
beberapa tetangga yang tinggal di sebelah Bonobo dan semua adalah temannya. Ada taman
yang tak terawat menyatu dengan tempat parkir mobil, cukup luas. Ia lalu membukakan pintu
rumah untukku,
“Selamat datang, Gendhis.” senyumnya manis.
Memasuki gudang bagian bawah, aku dikejutkan dengan beberapa mobil antic, motor
jaman dulu, koleksi camera dan kumpulan kaleng coca cola dari beberapa negara yang
umurnya sudah puluhan tahun, piringan music jaman dulu, kardus-kardus yang aku tak tahu
berisi apa, dan semua itu menumpuk tak beraturan di lantai satu. Bonobo membuka kata
pengantar tentang mobil-mobil yang ada di lantai satu dengan fasih. Sesaat ingatannya
kembali ke masa lalu. Kebanggaan pada dirinya sedikit tak terkontrol hingga ludahnya
muncrat kemana-mana. Aku merasa harus memberikan sedikit pujian terhadap karyanya yang
mengagumkan, dan itu jujur.
“Wow.. luar biasa, perjalanan karir dan hidupmu.” Demikian pujianku tulus, lalu
cipratan ludahnya makin tak terkendali, dadanya membusung mengalahkan kuasa Tuhan.
Aku bisa memaklumi. Ketika umur makin mendekat kembali ke tanah, umumnya manusia
makin butuh existensi atas kerja keras yang sudah dilakukan dalam hidupnya. Membutuhkan
pengakuan untuk tidak diremehkan supaya tetap dianggap unggul. Tak ada yang salah untuk
mendengarkan cerita kesuksesan masa lalunya, saat itu. Ada yang bisa aku ambil menjadi
pelajaran, ada yang cukup aku buang ke toilet.
“Saya akan ceritakan semua padamu! Kamu pasti kagum dengan apayang saya
lakukan!” Ia kian bersemangat. Aku memilih manggut-manggut.
Kami berdua lalu menaiki tangga menuju lantai dua. Tangga harus ada agar orang tak
menginjak kita. Lorong kecil dengan rak berisi majalah, lukisan, foto-foto, dan buku-buku.
Semua tertata rapi walaupun debu dan sarang laba-laba ikut menambah kesan tua semua
koleksi Bonobo. Hampir 85% berkaitan dengan mobil jaman dulu dan segala pernak-
perniknya. Ada 3 kamar cukup besar, kamar tidur untuk tamu, kemudian ruang untuk tempat
kerja Bonobo, serta kamar tidur utama. Di depan ruang televisi, terdapat rak berwarna putih
berisi DVD lengkap dengan film-film pada jamannya. Dari isi rumahnya, aku tak meragukan
kalau ia memang pecinta seni dan barang bagus. Warna abu-abu tua mendominasi
ruangan, taplak meja makan, sofa, meja bar, dapur, hingga seprei tempat tidur. Mataku
melihat design dan selera diatas rata-rata. Kaki kami bergeser kearah depan tempat tidur yang
sedikit berantakan, lalu ia menatapku menggoda.
Aku tak tahu bagaimana seorang pecinta seni dan seniman melihat sebuah kecantikan.
Tapi yang aku temui, Bonobo memandang kecantikan wanita hanya sekedar ukuran tubuh
dan umur. Baginya wanita gemuk dan besar itu menjijikkan dan layak ditinggalkan,
kemudian untuk perempuan tua, karena gengsi, tak pantas untuk dijadikan kekasih. Ia
berpikir dengan caranya. Apakah seperti itu model berpikir seorang pengagum seni, aku tak
begitu paham. Ketika kamu membenci dengan sangat pada apapun, suatu hari semua bisa
berbalik, kamu bisa menjadi memuja, mencari, dan mencintanya. Alam selalu menjawab
kepongahan dengan cara yang tak tertebak, datangnya seperti angin, lembut.
Bonobo masih lumayan gesit di usianya yang sudah uzur, hanya stroke kadang
muncul dan menghambat gerakannya. Status Bonobo saat aku datang adalah lajang, terlepas
dari bunga-bunga cantik yang pernah diajaknya menginap. Pengakuan yang masih gamang
untuk bisa kupercaya, ia tak punya komitmen untuk berpacaran kembali dengan para mantan
atau dengan pemijat plus yang singgah di atas kasur, katanya begitu. Kami berdua lalu
berciuman tanpa ingin berpikir rumit.
“Kamu senang dengan rumahku?” Tanya Bonobo diantara ciuman kami.
“Ya, kamu punya rumah menarik, menggambarkan diri dan isi otakmu.” Jawabku
santai menatap matanya.
Ia sedikit tertawa, “Mungkin.” Jawabnya pendek. Aku senang kamu tiba disini dan
akan merawatku.” Sambungnya, lalu kembali menciumku.
Bonobo tampak lebih tertarik melanjutkan adegan enak dari pada membahas
pertanyaannya sendiri. Aku sudah tiba di tanah Perancis, judulnya hendak menjadi perawat.
Setelah dua jam berlalu, ada keyakinan kalau lakonnya bisa berkembang luas dari judul.
Hidup, layaknya membuat karangan bebas. Hari itu pula, aku mengambil keputusan dan
sangat yakin untuk merubah arah cerita.
“Akan lebih menarik tulisan ini aku persembahkan untuk perjalananku sendiri.” Aku
membatin tak terkendali. Selalu ada kanvas kosong untuk melukis keajaiban-keajaiban hidup.
Mungkin juga bisa tersandung cinta, sekaligus mengenal urusan ranjang dengan Bonobo, aku
tak pernah tahu. Masih mencoba meraba jawaban dalam kotakku sendiri.
Tak ada yang harus dipermasalahkan karena status kami tak berselingkuh dari
siapapun. Ia sudah pisah dengan istrinya sekitar lima tahun yang lalu, walau belum bercerai.
Mereka punya kehidupan sendiri- sendiri. Sedangkan suamiku sudah meninggal. Ritual
adegan yang menurut Bonobo adalah seni dalam sex, kami lakukan seperti obrolan dalam
telepon. Mandi bersama sekaligus membersihkan badan si pecinta vagina yang sudah
berumur 71 tahun dengan menggosok semua tubuh serta bagian intim seperti penis dan
sekitarnya. Usia Bonobo sudah melampoi akil balik, perutnya juga tambun. Factor-faktor
tersebut pasti menjadi hambatan bagi siapapun dalam urusan membersihkan tubuhnya
sendiri. Efek dari aroma tak nyaman seharusnya menjadi hal sensitive bagi bunga-bunga yang
telah digumuli diatas tempat tidur atau sofa.
Urusan gosok menggosok badan di kamar mandi kami lanjutkan di atas tempat tidur.
Tidak sulit bagiku untuk membuat pria berusia 71 tahun ini bahagia dan ketagihan dengan
jamuan dariku yang enak. Andalan penisnya hanya tinggal sebesar jempol kaki sekaligus
loyo. Membutuhkan waktu cukup lama untuk membuat Bonobo berteriak luar biasa karena
cairan dari penisnya keluar dengan lancar. Dari komunikasi sebelum bertemu, aku sudah
mempelajari pola tentang dirinya di atas kasur, jadi wajar kalau kemudian dia gelagapan
dengan aksiku. Ia berpikir aku wanita gila di usiaku. Aku tersenyum melihat tinggi hatinya.
Entah, aku tidak menyukai namun aku ingin menaklukkan yang satu ini.
“Kesombongan apa yang ingin kamu pamerkan di depanku? Penis, lidah, dan berapa
jumlah vagina yang pernah kamu telan?Aku membatin, lalu menuju kamar mandi lagi tanpa
sehelai kain menutupi tubuhku. Sehebat apapun laki-laki tetap ada rapuhnya.
@@@@@
Rutinitas pagi hari sebelum sarapan dimulai, Bonobo selalu memutar beragam music
yang sering aku dengar waktu di bangku SMP, SMA, hingga kuliah. “Hmm… sangat manis
kembali ke masa lalu.” Batinku tersenyum.
Bonobo begitu paham dengan music pada jamannya mulai dari Elvis, Queen, santana,
blues, jazz, dan lain-lain. Ia punya semua koleksi lengkap lagu-lagu para legend itu,
mengenalnya dengan baik, juga bisa menyanyikan dengan fasih. Buatku, hal ini sangat
mengagumkan dan cerdas. Bonusnya, aku menjadi ikut memahami music jaman itu serta
tokohnya. Bonobo tahu tentang banyak hal, karena membaca dan mempelajari. Artinya tidak
semua diperoleh dari sekolah. Dari ceritanya, semua pelajaran di sekolah jadi biasa saja
bahkan banyak menimbulkan masalah.
Hari-hari berikutnya semua instruksi dari Bonobo aku simpan rapi dalam otakku,
supaya tidak terjadi kesalahan fatal. Bedah jantungnya akan di lakukan dua minggu
kemudian. Proses pembersihan apartment menjadi prioritasku, semua debu langsung masuk
dalam kotak vacuum cleaner. Bersih menjadi prioritas pertamaku. Tak ingin berkutat hanya
menjadi perawat, kulakukan semua yang bisa aku kerjakan. Tiga hari setelah kedatanganku,
apartment Bonobo kembali seperti baru. Ia sangat senang dengan hasil karyaku. Perlahan aku
mulai menjelajahi tulisanku sendiri mengikuti naluri, mengolah pikiran, menjawab aneka
pertatanyaan, berkompromi dengan bumi yang aku injak, dan menenangkan langkahku. Tiap
orang punya jalan hidupnya. Ada kehidupan yang harus aku terima saat ini. Aku menjalani
ketulusanku, tak ingin ada kesombongan di depannya, kecuali jika ia meremehkanku dengan
sangat.
Awalnya interaksi plus-plus tanpa melibatkan rasa gula-gula, tapi sedikit beraroma
anyir berjalan dengan lancar. Manuver di luar maupun di atas tempat tidur aku lakukan
dengan apik menggunakan seni menurut caraku, hingga membuat Bonobo menikmati rasa
nyaman, ketagihan, dan mulai berpikir untuk membuat sebuah keputusan. Sah saja, aku
bekerja dengan segala tanggung jawab, professional, dan kasih, memberikan perhatian extra
padanya untuk menyuarakan emosiku. Aku bisa berinterkasi pada banyak hal tentang
kebiasaan manusia dan budaya di luar negaraku dengan cepat, karena aku punya akal dan
sedikit terbiasa dengan budaya mereka.
“Kamu luar biasa, belum pernah aku bertemu wanita yang sangat mengerti
kebutuhanku dan pintar.” Begitu sambutannya setinggi jemuran baju. Ketika kalimat pujian
begitu mudah diutarakan, dengan gampang pula puji-pujian itu berbalik menusuk.
“Aku selalu takut dengan yang luar biasa, karena akan mudah rapuh dan menjadi
sangat biasa.” Begitu balasanku. Ia membisu tak ingin berkomentar.
“Mungkin.” Jawaban pendek yang menjadi senjata untuk melindungi egonya ketika
sudah terpojok.
Stroke ringan semakin sering menyerang kaki dan tanggan Bonobo walau tak lebih
dari tiga menit. Kondisinya juga mulai sedikit menurun. Kekurangannya selalu di sambut
dengan umpatan dan emosi atas penurunan daya tubuh yang menimpanya.
“Saya sudah mati! Saya tidak suka situasi ini! Dahulu saya tidak seperti ini! Saya
orang yang gesit dan kuat! Saya bisa melakukan pekerjaan apa saja!” ia mengeluh pada
dirinya sendiri.
Aku memilih tak berkomentar. Lembut dan kuat memegangi tubuhnya untuk tak
tersungkur. Emosinya meluap tinggi kemudian mereda sendiri, tak lama. Grafik jiwanya
seperti jet coaster. Meledak seperti bom, menurun tak terkendali, rata tanpa reflek, berubah
setiap putaran, terkadang tak tertebak. Suasana hati, pikiran, dan mulutnya bisa bergeser
dalam hitungan menit. Setelah itu semua kembali normal seolah tak terjadi apa-apa.
Menganggap semua yang dilakukan benar.
Segala kebutuhan Bonobo sebelum operasi sudah aku masukkan ke dalam kopor
kecil. Mengenal lingkungan sekitar dan bertemu dengan beberapa teman Bonobo menjadi
agendaku sebelum ia masuk rumah sakit. Ia pemberi arahan yang baik, detail, jelas, dan
cerdas, walau pikirannya mudah berubah. Aku menghargai pola berpikirnya untuk hal-hal
tertentu.
Gendhis, kamu bisa pergi belanja dan ke rumah sakit pemulihan menggunakan
sepeda.” Ia menjelaskan dan menyiapkan sepeda untukku. “Jean akan membantu
menunjukkan jalan dan jalurnya menggunakan mobil, kamu tinggal mengikutinya.”
Sambungnya. Aku memperhatikan detail instruksi dari Bonobo, supaya tak ada kesalahan.
Menurutku, Bonobo membutuhkan sosok cerdas untuk menangkap pikirannya.
Sementara dalam catatanku, gadis-gadis muda yang pernah menjadi kekasih diatas tempat
tidurnya rata-rata bersekolah hingga kelas 4 SD, kadang tak bisa baca tulis, tak bisa bahasa
Inggris, dan susah mencari kalimat yang pas agar sambungan pembicaraan jelas. Dari sini,
aku semakin belajar menghormati kepintaran dan kelebihan mereka. Mereka memainkan
kartu dengan cukup apik melebihi Bonobo. Mereka mendapatkan semua keinginannya, tanpa
harus meremukkan tulang, hingga selalu menjadi ratu disamping Bonobo ketika menjadi
kekasihnya. Kecantikan dari dalam itu seperti bunga, dan tentu saja berbeda satu dengan
lainnya, dan menjadi keunikan dari setiap wanita itu sendiri.
Aku diam beberapa saat,Siapa sesungguhnya yang ahli dalam seni kisah kasih ini?”
Aku membatin sekaligus tersenyum lebar.
Ada dua sisi berjalan dengan ketinggian yang sangat signifikan. Satu sisi Bonobo
cukup cerdas dan pintar secara otak, kemudian secara harafiah ia membutuhkan gadis muda,
dengan bentuk menarik, punya vagina, dan payudara, tak peduli apakah mereka bisa baca
tulis atau tidak. Berapa lama perbedaan ketinggian itu akan bertahan dan kemudian kapan ada
titik saling menimpa dan jatuh. Entah siapa yang tertimpa dan merasakan perih. Aku berpikir
beberapa detik, namun tak ingin menyimpulkan Bonobo dengan seluruh bekas kekasihnya
termasuk sang istri yang hatinya masih remuk.
Saya nggak peduli dengan uang. Yang penting saya bisa memeluk tubuh sexi dan
menjilati vaginanya.” ucapnya berulangkali, menyembunyikan kerentanan karena egonya
sendiri. Aku melihat dengan jelas sorot matanya, Indera yang tak bisa bohong dan dibohongi
itu. Ia lebih banyak mengeluarkan uang dan jarang menjilati vagina sang wanita pujaan,
karena para gadis muda sesungguhnya geli dengan Bonobo yang sudah tua. Aku menatapnya
halus. Ketika ego ditempatkan semakin tinggi, sebenarnya ada rasa nyeri yang ditutup-tutupi.
Selalu ada sesuatu dibalik permukaan, aku biarkan otakku menyimpannya dulu.
Aku menjadi wanita karir luar biasa sibuk entah menulis, mengurus rumah, memasak,
berkebun, mencuci, memandikan Bonobo, menemani nonton film, dan lain-lain. Jam kerjaku
tak terbatas, tapi aku senang. Kala itu ada kedamaian yang tak bisa ditakar. Aku juga menjadi
pendengar yang baik ketika ia susah berhenti bercerita tentang rantai hidupnya, bagaimana
membangun mobil untuk balapnya, menjadi wartawan hingga menjadi pemilik majalah
olahraga besar, dan bertemu dengan pembalap-pembalap ternama.
Ketika harta melimpah Bonobo kesulitan terpisah dengan banyak wanita-wanita
cantik di atas tempat tidur. Penisnya pernah berkelana, menjajakan lidahnya ke vagina-vagina
yang diinginkan, mulai di Perancis, America, German, Thailand, dan tentunya di Indonesia.
Hanya warna dan bentuk yang beragam, soal rasa tak jauh berbeda dan semua tanpa harus
menorehkan penyedap rasa, begitu penjelasannya. Aku kian memahami luka dan remuknya
hati sang istri hingga memilih berpisah, yang dilakukan dan ditunjukkan Bonobo adalah
terbaik menurut versinya. Ia lebih banyak lupa dengan siapa bersama langkahnya.
“Saya selalu benar!! Saya selalu ingin gadis muda yang cantik tubuhnya.” begitu
pernyataannya. Pedas, hingga luka dan amarah sang pendamping siapapun tak bisa mereda.
“Saya pernah memberi kepuasan pada sepuluh wanita bergantian dengan jari kiri
kanan saya, di sebuah restaurant.” Tawa riang sekaligus getir terlihat mengiringi mimiknya
mengenang rasa yang pernah dinikmatinya. Aku tersenyum tipis menyandarkan tubuhku di
meja bar, tak ingin berdebat dengannya, aku memilih memancing kucing dengan ikan asin.
Ceritanya semakin tak terkendali. Ada kepuasan hampa pada matanya. Semakin berpura-pura
sesungguhnya semakin membuatnya lelah. Ia menggiring jantungnya sendiri untuk
menderita, walau tak pernah diakuinya.
Beberapa kali bekas-bekas gadisnya tetap masih menelpon Bonobo, menanyakan
kabar, berbincang, lalu meminta uang. Bonobo punya hak penuh atas diri dan uangnya. Lagi
dan lagi selalu ada rasa tak bahagia selesai mengirim uang pada gadis-gadis pensiunan itu. Ia
sesungguhnya hanya mempertahankan gengsi, ingin tetap dianggap dewa penolong, sekaligus
mencoba berinvestasi cinta saat ia ingin kembali memeluk tubuh para purnakarya itu. Aroma
birahi, cinta, dan kotoran berebut keruwetan saat terjadi transaksi pembelian cinta. Cerita
mungkin bisa bergulir lebih gurih kalau transaksinya jelas, yaitu pembelian penikmat tubuh.
Pembayaran dilakukan sebelum ada kenikmatan, setelah rasa enak terpenuhi, kembali ke
tempat masing-masing, tanpa harus ada kekusutan jangka panjang. Bonobo membiarkan carut
marut kisah kasihnya semakin berbelit, tak berujung. Ia ingin membangun perjalanan
cintanya seperti kisah dalam cerita dewa-dewa Yunani. Alhasil, jantungnya yang harus jadi
korban untuk di operasi. Itu menurut pandanganku yang masih konvensional.
Bonobo telah menjadi pengabdi sex pada gadis muda dan hampir tak terkendali. Ada
horor yang lebih menakutkan dari pada pengabdi mbahnya setan, menurutku. Mental orang
terdekat menjadi ikut menangis, tercabik, dan ketika darah belum mengering, selalu ada
sayatan lain. Sebelum berangkat ke rumah sakit, Bonobo minta di foto telanjang dada untuk
dikirim ke semua wanita-wanita yang dianggapnya akan peduli. Ingin menunjukkan dadanya
sebelum dan sesudah operasi. Namun, lagi-lagi tak ada tanggapan dari para gadis penerima
foto yang sudah pension jika tanpa disertakan bukti transfer uang tanpa kutanya apapun.
Berusaha kuat membela dirinya sendiri di depanku.
“Biasanya mereka akan menjawab dua atau tiga hari kemudian.” Katanya dengan
bibir bergetar. Mimikku serius menanggapi sambil manggut-manggut, tanpa ingin
menjatuhkan martabatnya. Ada rasa malu dalam dirinya yang berusaha ditutup dengan
dinding bambu, jadi mudah aku mengintipnya. Hanya unntuk memberi komentar pada foto
telanjang dada Bonobo, para gadis itu juga butuh dibayar.
@@@@@
Operasi Bonobo 71 tahun, hari itu berjalan lancar, operasi yang cukup berat,
menurutku. Sebab akibat dalam perjalanan hidup itu selalu ada, menempati tempat dan waktu
yang tak bisa di geser. Kepala kita lebih cenderung memberontak ketika harus menunduk
melihat dalam diri sendiri mencari hal busuk yang kita lakukan. Karena kodratnya memang
lebih ringan mendongak dengan dada membusung.
Aku hanya di rumah, menunggu kabar dari anak-anaknya, karena sang istri tak ingin
bertemu dengan siapapun wanita yang dekat dengan suaminya, walau mereka sudah pisah
ranjang dan beda rumah bertahun tahun. Bagi sang istri luka nyeri itu selalu ada. Semuanya
sangat lumrah menurutku. Perkawinan 40 tahun harus ambyar karena urusan perbandingan
berat badan yang dibuat Bonobo antara gadis-gadis muda dan sang istri. Ia membuat sayatan
demi sayatan meninggalkan perih tak berkesudahan pada wanita baik yang pernah dan sedang
di sukainya. Persis karena kemauannya belum berujung. Keinginan untuk dikagumi masih
kuat menggelora walau jalannya sudah terseok. Istrinya tetap baik menungguinya di rumah
sakit.
Dua belas jam setelah operasi, Bonobo sudah bisa mengirim kabar padaku, tak lupa
mengirimkan foto tersenyum beserta alat pemacu jantung yang masih menempel pada
tubuhnya. Ada sayatan panjang di dadanya dan beberapa lubang di perutnya. Foto yang sama
juga sudah terkirim ke seluruh nomor pada gawainya. Bonobo masih sangat membutuhkan
pengakuan dari luar.
“Oohh sungguh operasi besar dan menakjubkan, semoga lekas pulih dan pindah
rumah sakit, sehingga saya bisa datang menunggui.” aku juga harus memberi komentar baik
dan haru dari foto tersebut, memberinya kebanggaan dan perhatian.
“Iya, saya juga ingin kamu menungguiku, saya kangen dengan kamu.” Begitu
nyanyiannya. Orang jawa bilang, kalau ada sapi mulus dan punya vagina, Bonobo juga
merindukannya.
Perawatan dengan kwalitas terbaik dari rumah sakit tak diragukan lagi. Setiap hari
kesehatannya terus membaik dan tentu saja itu menyenangkan. Ia sudah sangat sibuk dengan
hp nya untuk menyebarkan berita tentang keadaannya di rumah sakit pada semua umat setiap
saat. Suatu hari karena kesibukan dengan hp nya sudah malampoi batas, kondisinya tiba-tiba
memburuk. Beberapa alat yang sudah di lepas terpaksa dipasang ulang oleh dokter.
Kondisinya tampak sangat lelah ketika telepon video denganku. Terlihat tua, lelah, keriput,
dan tak berdaya.
“Kamu kelihatan semangat, bersih, dan makin ganteng setelah operasi.” Pujianku
satir. Ketika ia akan bercerita tentang kondisinya memburuk pada khalayak, aku mencoba
memberi saran, Kalau kamu ingin tahu siapa yang peduli denganmu, kamu tidak harus
memulai duluan untuk mengirim kabar, coba matikan hp satu atau dua hari, kamu akan
menjadi tahu.” Aku berkata memberi terapi kejut. Kali ini tak bisa membela diri karena
kondisinya lemah.
“Mungkin.” Jawaban pendek andalan Bonobo saat tersudut. Aku menahan untuk tidak
tertawa, namun akhirnya mematikan gawainya satu setengah hari.
Aku tetap mengirimkan kabar walau hp Bonobo untuk sementara mati. Tinggal di
apartment sendiri tak membuatku merasa takut. Keheningan dan sunyi menjadi waktu
inspirasi untuk menulis, berdoa, mengerjakan banyak hal yang bisa aku kerjakan, hingga
apartment Bonobo kian kinclong dan rapi. Satu setengah hari lewat seperti dalam hitungan
menit.
“Halo Gendhis!” sapa Bonobo dari rumah sakit. Kali ini kondisinya sudah jauh lebih
baik. Kami berbincang ringan tentang perlakuan perawat yang baik, dan lain.
“Siapa yang banyak mengirim pesan kepadamu?” aku bertanya.
Bonobo mencoba menutupi rasa kikuk diantara kejujurannya, “Nggak banyak, kamu,
keluargaku, dan teman-teman mobil yang sudah berpuluh tahun kami bersama.” Jawabnya
sedikit blingsatan karena tak ada gadis muda yang menanyakan kondisi Bonobo, kecuali saat
minta uang. Aku harus pura-pura berduka, karena tak ingin membuat gengsinya ambyar.
“Ooohh so sorry, barangkali para gadis yang kamu inginkan tengah sibuk di tempat
kerjanya, mungkin belum ada waktu…” Bonobo memahami maksudku, artinya para gadis
purnabakti itu sedang sibuk melayani pelanggan lain di aquarium tempat mereka bekerja. Ia
hanya membalasku dengan senyuman pahit. Kami berdua lebih suka mengganti topik.
Bonobo nampak kagum dengan kemandirianku berada di Perancis tanpa didampingi
dirinya. Beberapa kali menyampaikan pujian tanpa harus membuat besar kepalaku. Hobinya
memang menyanjung para wanita. Jadi aku belum terhanyut.
Setelah satu minggu Bonobo berada di rumah sakit besar, ia sudah bisa pindah ke
rumah sakit pemulihan. Rumah sakit yang tak jauh dari apartementnya. Tentu saja hal ini
membuat semua pihak bergembira. Ia masih ingin mendapatkan perhatian dari para
mantannya, walau kemudian harus mengirim uang ke mereka kembali. Tak peduli para gadis
itu menanyakan kondisinya atau tidak. Menyebar gula karena ingin rombongan semut
mengerubunginya. Semuanya sah saja, selama Bonobo sendiri menginginkan membayar
tanda terimakasih untuk vagina yang belum ingin dilupakan. Ia punya hak istimewa atas
dirinya.
“Aku ingin bicara sesuatu, nanti saat kamu menengokku.” Pesannya hari itu, dua hari
sebelum pindah ke rumah sakit pemulihan. Aku menanggapinya dengan biasa saja, tak ingin
tahu yang hendak disampaikannya.
@@@@@
Setelah dua hari Bonobo pindah ke rumah sakit khusus pemulihan untuk pasien
operasi jantung, ia memintaku untuk datang menengok bersama sahabatnya. Jean namanya,
menjemputku menggunakan mobil sekaligus menunjukkan jalan yang harus aku lewati untuk
ke rumah sakit dengan sepeda. Rumah sakit yang nampak asri, tenang, dan punya halaman
luas dengan pohon-pohon besar. Sangat nyaman dan layak untuk rumah sakit pemulihan, juga
untuk latihan jalan bagi pasien selesai operasi. Aku lebih suka menyebutnya seperti homestay
bintang empat. Tiba di ruangannya, wajah Bonobo tampak bergembira. Ia langsung memeluk
dan mencium bibirku lembut, tak seperti biasanya ketika aku mendekat pada tempat tidurnya.
Ada rasa tak biasa. Ia masih memelukku erat dari atas tempat tidur sambil berbincang dengan
Jean. Tak ada alat yang menempel ke tubuhnya, hanya nampak masih lemah.
“Apakah ini?!” aku membatin menanggapi pelukan dan ciumannya. Sesekali Bonobo
menterjemahkan obrolan mereka, karena aku memang belum paham bahasa Perancis mereka.
Tak lama, Jean minta ijin untuk kembali ke kantornya dan hendak menjemputku
kembali setelah jam berkunjung selesai.
“Saya ingin bicara dengan kamu.” Kata Bonobo setelah Jean keluar ruangan. Ia
menatap mataku tajam. Berulang kali tatapan mata kami beradu. Aku menghalau hatiku
untuk tidak berdebar.
“Hmmm..” aku menunggu dan tak tahu apa yang akan ia ucapkan.
“Aku mencintaimu..” Ia berkata seraya mencium bibirku.
Jantungku tak berdebar menghentak. Aku malah bingung harus menjawab. Aku
berpikir tentang pekerjaan yang aku butuhkan, Eropa impianku, dan sudah cukup lama aku
hidup sendiri. Sadar sepenuhnya bakal ada tsunami menghempas untuk perjalanan sebuah
cinta dengan Bonobo. Cinta yang bergairah sering membuat kita lemah. Ada kesalahan dalam
otakku, seharusnya aku bertanya apakah tetap menerima gaji setiap bulan setelah menjadi
kekasihnya, atau hanya menyandang status kekasih tanpa gaji perawat dan lain-lain. Saat itu
hanya ada kesepakatan harus bicara jujur dan terbuka terkait dengan gadis muda.
“Aku juga mencintaimu.” Jawabku tanpa berpikir jernih. Lalu, kami pun sepakat
berpacaran. Saat itu pula aku merasa mendarat di kolam beku tak berujung.
Sore itu waktu Perancis, di atas tempat tidur ruang pemulihan rumah, Bonobo berniat
sangat serius menikahiku. Aku tersenyum dan belum bisa meyakini kalimatnya,
“Mungkin dia masih mabuk obat bius..” aku membatin sendiri
Kemungkinan juga ia selalu menebar rayuan sama pada gadis-gadis yang sudah
pernah hadir di dalam pelukannya. Bonobo terlihat gembira jam itu, mengisi sisa jam
kunjungan pasien dengan ciuman hampir tanpa jeda. Aku biarkan sore itu berjalan tanpa
kerumitan. Musim dingin belum bergeser, angin dan hujan membawa daun-daun hijau muda
bersemi begitu cepat. Ada potongan cerita yang masih kabur dan tak tertebak. Aku belum
tahu bagaimana menggabungkan bagian puzzle yang masih berserakan.
“Take care my love..” begitu kalimatnya ketika aku meninggalkan ruangan untuk
kembali ke apartmennya sembari mencium bibirku.
“Thank you.” Jawabanku. “Seberapa lama ia akan memanggilku my Love. Aku
membatin. Teorinya, ketika kita cepat beradaptasi dengan kesenangan baru, pasti juga cepat
merasa biasa saja. “Sampai besok, aku akan datang tanpa celana dalam.sambungku tanpa
beban serta kulemparkan tawa.
“Kamu sangat nakal, aku menyukainya.” ia menambahkan. Aku menanggapi dengan
senyum lebar lalu keluar ruangan Bonobo menuju gerbang rumah sakit dimana Jean sudah
menungguku.
@@@@@
Esok harinya usai makan siang, aku bergegas memakai baju hangat warna biru milik
Bonobo tak peduli dengan ukuran yang sangat besar pada tubuhku, karena aku memang tidak
ada prsiapan dari Indonesia. Untuk memberi pesona seksi, kusemprotkan parfume Burberry
di bagian-bagian tubuhku yang menggoda. Aku keluar apartmen dengan mengayuh sepeda
menyapa Jean dan tetangga Bonobo yang lain, lalu menyusuri jalan yang sudah ditunjukkan
oleh Jean serta mengikuti instruksi Bonobo. Aku menuntun sepeda melewati hutan pinus
sebelum menuju jalan raya, mengencangkan syal di leherku menghalau angin kencang yang
menerpa tubuhku. Keluar hutan pinus, aku harus berhati-hati melewati jalan raya sekitar 650
meter sebelum memasuki trek untuk pengguna sepeda.
Angin bertiup anggun membawa bisikan cinta yang masih buram, namun memberi
semangat yang sedikit memabukkan. Jalanan aspal bagus, kiri kanan hutan masih asri dan
terjaga dengan baik. Pengendara mobil maupun sopir bis mengatur jarak aman dengan
pengguna sepeda. Mereka selalu berhenti ketika pengguna sepeda hendak menyeberang jalan,
hal kecil namun membuatku merasa aman. Memasuki trek untuk sepeda, suasana menjadi
sunyi yang menyenangkan. Berdampingan dengan hutan tanpa ada pembatas, sepedaku
bergerak tenang dan lembut. Sensasi angin dingin datang menyibak rambutku yang belum
panjang. Tak tahu kemana harus menuliskan latar yang indah kala itu. Aku menyimpannya
dalam senyuman. Aku harus menempuh 2.5 hingga 3 kilo dari apartemen untuk sampai
kamar perawatan Bonobo. Kadang aku berhenti dua menit hanya untuk menghirup udara
bersih, lalu kembali mengayuh pedal sepeda. Berpapasan dengan pengguna sepeda lain,
kami saling menyapa ramah,
“Bonjour” sapa mereka
“Bonjour.” Jawabku sebatas itu. Pengalaman elok yang akan selalu ada dalam
benakku.
Tiba di rumah sakit, aku melihat Bonobo sudah duduk di teras belakang kamar
menungguku dan melambaikan tangannya bersuka.
“Bisakah aku menahan hati untuk tidak berhamburan?” aku membatin sambil
melambaikan tangan ke Bonobo, lalu melangkah menuju kamarnya melewati rerumputan
yang terawat dengan apik.
Bonobo memelukku hangat dengan rasa suka cita, karena semua masih hangat seperti
tai kebo yang baru keluar. Tiba-tiba hatiku terasa hening, bersiap untuk yang terburuk, juga
berharap untuk yang terbaik, dan harus damai saat berada diantara keduanya. Kemana
pergantian musim akan berkenan membawa jiwaku, apakah sudi menguatkan atau
meruntuhkan mentalku, semuanya masih berkabut. Aku mencoba berpikir sederhana sore itu,
mencintai adalah hal yang bisa aku berikan dalam hidup.
Semua berjalan normal dalam beberapa hari setelah kalimat saling cinta yang disertai
tai meluncur karena emosi. Bonobo selalu bercerita kepadaku siapa saja para mantannya yang
mengirim pesan menanyakan kabar, mendoakan segera sembuh supaya kegiatan mentransfer
uang bisa kembali berjalan.
Buttercup baru saja mengirim pesan menanyakan kabar, ia minta di transfer uang.”
Katanya kepadaku sambil masih berbaring di tempat tidur.
Kenyataan, itu seperti air menyeruak, membuatku gelagapan. Kerumitan menjadi
pelik, banyak drama dalam kehidupan Bonobo. Ia tak pernah ingin mengakhiri hubungan
dengan para sang mantan. Sesungguhnya sikap yang tak mau berubah menjadi penyakit
mematikan. Akan ada konflik tak berkesudahan dalam kelanjutan cerita bersama Bonobo
nanti. Pilihannya, bertahan dengan menyiapkan kekuatan mental dan energi, atau pergi
meninggalkan Bonobo yang akan memaksaku untuk menjalani konflik dalam bentuk lain.
Pada akhirnya, semua perjalanan harus meminta kekuatan, pembelaan, dan berkat dari Tuhan.
Selebihnya bersyukur. Begitulah isi teori pikiranku. Aku harus bekerja dengan sikap tak
menyerah, pintar, dan berdamai dengan rasa nyeri setiap saat. Bonobo terlalu banyak janji
untuk mengumbar kebaikan yang tak murni.
Dalam satu minggu aku menunggu Bonobo di rumah sakit pemulihan empat hingga
lima kali. Istrinya hanya menunggu kalau aku tidak ada di rumah sakit. Aku tak ingin tahu
gossip tentang diriku yang di uatarakan istrinya pada perawat-perawat rumah sakit. Sangat
beruntung aku tak paham bahasa Perancis kala itu, jadi pura-pura menjadi bodoh terkadang
juga membuat pikiran menjadi ringan. Dalam ceritanya, Bonobo selalu membelaku ketika
sang istri berbicara sengit tentangku di rumah sakit. Buatku semua wajar, hati wanita itu
lembut tak ingin menerima kepedihan, wanita tak ingin tercampakkan. Apalagi cerita Bonobo
dengan para mantannya yang terbanyak dari Indonesia juga tak kunjung usai. Adonan negatif
tentang perempuan Indonesia semakin sempurna untuk jadi bahan cibiran sang istri dengan
beberapa perawat rumah sakit. Aku tak perlu berteriak membeli diri, apalagi dengan bahasa
Indonesia.
Sedikit membingungkan, sang istri hanya mau menunggu Bonobo di rumah sakit, tapi
tak ingin lagi merawatnya setelah operasi. Sedangkan Bonobo juga tak ingin dirawat istrinya
lagi. Karena keinginan keduanya sudah tak lagi bisa di musyawarahkan apalagi disatukan,
maka harus ada perawat untuknya. Bonobo membutuhkan perawat khusus yang mumpuni
untuk kerja professional dan kerja ekstra di atas dipan, khusus setelah operasi jantungnya.
“Saya sudah tidak tahan dan tidak bisa tinggal dengannya.” Kata Bonobo tentang
istrinya. Aku memilih diam mendengarkan, tak ingin menyalahkan, karena hanya membuat
hubungan rusak. Apakah aku merasa benar, juga tidak. Apakah aku yang menang, tentu salah
presepsi. Rasa enak dan tidak enak itu selalu beriringan, kubiarkan mengalir, menerima dan
menjalani realitas yang ada. Masih ada keelokan cerita pergantian musim setiap hari, selalu
ada yang berbeda dan unik. Aku menyukainya. Kuncup-kuncup daun baru sijau muda mulai
bermunculan di kebun yang aku rawat. Satu dan dua bunga mulai keluar walau masih malu-
malu, catik dan elok untuk di pandang. Setia pagi sealu ada perubahan cantik dari kebun dan
hutan yang aku lewati.
@@@@@
Suatu hari, Bonobo mengijinkanku pergi ke Kota Bordeaux untuk mengambil foto
dan video, kebetulan juga istrinya hari itu yang hendak menunggu di rumah sakit. Aku cukup
mencari brosur di halte bis dekat rumah Bonobo, melihat jadwal bis menuju Bordoeaux serta
tarifnya. Semuanya sangat jelas. Kebetulan aku sudah membayar roamax pada hp ku untuk
komunikasi di Perancis, jadi semuanya menjadi mudah, tak harus bergantung pada wifi.
Melihat ramalan cuaca sudah menjadi hal biasa yang harus kita lakukan agar tak salah
kostum dan bisa menyiapkan banyak hal.
Semua perlengkapan camera hingga uang sudah aku siapkan. Udara pagi itu sangat
dingin. Aku berjalan kaki keluar dari apartemen mengenakan baju hangat milik Bonobo yang
pas ukurannya untuk badanku sambil menggendong tas ransel kecil. Beberapa kali aku
merapatkan skraf di leherku karena angin dingin bertiup kencang. Hari masih sepi,
gonggongan anjing dari dalam rumah yang kulewati sedikit membuatku takut, karena aku
selalu khawatir mereka akan menggigitku. Berjalan agak cepat melewati jalan komplek,
menuju jalan raya, hingga masuk trek untuk pejalan kaki yang juga trek untuk pengguna
sepeda. Udara makin terasa beku karena berbatasan langsung dengan hutan. Aku menikmati
kemolekan atmosfir dengan segala syukur. Tetap beruntung punya kesempatan
melangkahkan kaki, menggenggam cita berada di Perancis. Negara yang hanya aku kenal
lewat bacaan dan pelajaran sejarah waktu sekolah. Tak sengaja mataku berkaca-kaca, sambil
terus melangkah menuju halte. Rasa syukur yang tak bisa aku gambarkan. Aku menarik nafas
panjang tersenyum sambil mengusap mataku.
Tiba di halte setelah berjalan kurang lebih 1,5 kilo. Sepuluh menit kemudian bis yang
aku tumpangi menuju Bordeaux sudah tiba di halte. Tepat waktu. Pintu otomatis terbuka, bis
yang cukup besar dan bersih. Sopir wanita dengan rambut blonde menyapaku ramah,
Bonjour. cava...?sapanya membuat hati adem
“Bonjour.. cava.. et toi..? Aku menyapa balik dengan bahasa perancis pas-pasan yang
aku pelajari, sembari membayar 2 euro.
“Oui, cava..jawabnya, lalu aku menuju tempat duduk yang kosong.
Bis berjalan dengan tenang, halus, tanpa goncangan yang membuat mabuk. Aturan
rambu di jalan ditaati dengan patuh karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat Perancis.
Antara rumah satu dan lainnya berjajar rapi dengan halaman bersih, kadang terpisah oleh
hutan luas. Anak-anak bersepeda mengenakan baju hangat membawa tas di punggungnya,
saling bercanda aman di trek khusus sepeda, meski berdampingan dengan hutan. Mereka dari
kecil sudah punya budaya, adaptasi bertahan, dan corakberpikir dengan cara mereka sendiri.
Perbedaan budaya itu selalu punya keunikan tersendiri. Penumpang keluar masuk bis dengan
teratur mereka berbaris dan menunggu giliran dengan tertib tanpa harus saling menyodok.
Satu jam perjalanan, akhirnya aku tiba di Kota Bordeaux.
Diam beberapa saat di depan halte, senyumku mengembang menyaksikan bangunan-
bangunan khas Eropa yang sering aku lihat dalam gambar, film documentasi tempo dulu,
buku cerita, maupun buku pelajaran. Aku menarik nafas lembut diantara udara dingin,
“Gusti, terimakasih dengan segala kesempatan ini..” aku berucap syukur memandang
langit abu-abu. “Engkau menyajikan banyak warna dalam langkahku. aku membatin dan
menunduk beberapa detik.
Hampir semua bangunan yang berdiri di Kota Boedeaux adalah tua dan kokoh,
dengan corak keemasan begitu anggun. Berjajar epic menjadi tempat tinggal dan tempat
usaha dengan harga beli atau sewa yang tentunya mahal. Restaurant, café, tempat souvenir,
toko sepatu, baju, dan lainnya, begitu elok dipandang berbatas langsung degan trotoar untuk
pejalan kaki. Kedai-kedai yang buka pagi kebanyakan hanya menyiapkan menu untuk
sarapan. Menempati kursi yang ada di luar ca, para pembeli duduk menikmati kopi bersama
croissants, kadang ditambah omelet atau telor ceplok setengah matang dan bakon. Berhenti di
sebuah kafetaria, membungkus crepes polos dengan olesan mentega serta double expreso
untuk sarapanku. Aku sengaja membawa makanan dan kopiku di taman tak jauh dari cafe.
Bersih dan rapi. Duduk santai melihat adegan orang berjalan kaki pada bulan dingin di Kota
Bordeaux yang terkenal dengan wine nya.
Dari kejauhan terlihat menara Bordeaux Katedral mengerucut menjulang tinggi
dengan bentuk seninya yang luar biasa. Lonceng dari Cathedral berdentang menggema ke
penjuru sudut Kota, saat jam tertentu. Gereja tak bisa dilepaskan dari sejarah Eropa. Tak jauh
dari tempatku duduk, berdiri gedung teater National Opera of Berdeaux, dekorasi warna biru,
putih, dan emas, dirancang oleh arsitek Victor Louis, diresmikan pada tahun 1780. Fasadnya
terdiri dari serambi dengan 12 kolom Corinthian, sebuah sajian bangunan yang mewah.
Teater menjadi pertunjukan eksklusif bagi banyak orang Eropa. Di jalanan, tampak kesibukan
orang-orang memulai hari dari beragam umur, pera pekerja, mahasiswa, wisatawan, dari yang
berjalan cepat hingga berlari dan melompat ke metro. Tak ketinggalan pengguna sepeda
menggunakan keamanan lengkap seperti helm, mengayuh sepedanya cukup kencang
membuat gerakan zig zag dan lihai melewati pejalan kaki. Karyawan toko dan restaurant juga
mulai bersiap menyembut pembeli. Aku menyeruput kopiku memadukan aromanya bersama
keindahan gedung-gedung tua yang memikat hati bersama segala keramaian orang di pagi
hari.
“Halo my love, kamu sudah sampai?” Tanya bonobo melalui telepon video dengan
wajah riang.
“Saya sedang duduk di taman dengan cup kopi.” jawabku sambil mengarahkan
camera phone ke sekelilingku. Berulang Bonobo memujiku karena mandiri, berani, dan
pintar. Ia berfikir aku hanya seorang gadis Indonesia ditambah lagi lama hidup di desa dan
tak punya banyak pengalaman. Aku menanggapi pujiannya dengan baik, tidak perlu unjuk
gigi di depannya, menurutku lebih bijak. Menjadi diri sendiri dan kuat, adalah siasat tepat
untuk mengubah pemikiran seorang seperti Bonobo yang cenderung mengerdilkanku.
Setelah membuang sampah pada tempatnya, aku melanjutkan langkahku menuju
Place de la Bourse yang menjadi ikon Kota Bordeaux. Dari google map, jaraknya kurang dari
1 kilo meter. Berjalan cepat sangat perlu untuk mengurangi rasa dingin dan memberi
kehangatan pada tubuhku. Aku terpana tak bergeming di depan Place de la Bourse. Alun-alun
Kota yang selesai di bangun pada 1755, menjadi simbul ekonomi baru Kota. Dalam arsitektur
neoklasik dari dua istana besar (Hotel des Fermes di sayap kiri dan Hotel de la Bourse di
sayap kanan), sepenuhnya simetris. Juga ada pavilyun tengah yang seolah-olah membelah
dua bagian hotel megah itu. Air mancur Three Graces adalah Miroir de l’Eau, konon menjadi
refleksi terbesar di dunia, yang dapat memantulkan alun-alun dan seluruh bangunan dengan
sempurna jika di lihat dari kejauhan. Maha karya seni yang sungguh anggun.
Aku manjakan pikaran dan imajinasiku disini, mempersembahkan kemampuan untuk
diriku sendiri. Membuat coretan, memotret, dan menghubungi majalah travel. Harapan dan
tekanan selalu hadir dalam sebuah perjalanan. Rasa sakit dan senang itu tak ada batasan dan
menempati waktunya sendiri-sendiri. Aku tak tahu bagaimana rupa jalanan di depan, dan tak
ingin membuang waktu hanya untuk memikirkan “seandainya” dalam kurungan negatif.
Menjalani yang harus aku jalani, positif, dan belajar menjadi baik. Aku menggeser langkahku
munuju Bordeaux Cathedral.
Tak henti aku berdecak kagum melihat bangunan Saint-Andre, Cathedral Bordeaux
dari luar. Katedral yang dibangun dengan model Gotik abad ke 12 dan ke 14. Ornament
dengan tiga pintu prosesi, dengan dekorasi yang kaya pahatan, marmer atau batu. Ditata
sedemikian rupa sehingga membelakangi Kota kuno dan karenanya tidak memiliki alun-alun
terbuka. Para arsitek lebih memilih mendekorasi fasad transept dengan mewah. Menara utara
dibingkai oleh Menara kembar dengan ketinggian mencapai 81meter dan bisa diakses oleh
dua tangga spiral. Menara lonceng Pay-Berland anggun berdentang dan aku terdiam
memandangi ke atas. Menara lonceng ini, dibangun antara tahun 1440 dan 1450 dengan berat
sekitar 8 ton. Gereja kemudian berubah menjadi ruang serbaguna ketika terjadi kekacauan.
Katedral Saint-Andre menjadi warisan dunia sejak tahun 1998. Di Cathedral ini pula tempat
pernikahan Eleanor dari Aquitaine dengan Louis VII, calon raja Perancis pada tahun 1137.
Hatiku tertecun saat memasuki dalam gereja.
“Wow” aku berdecak pelan.
Dibangun mengikuti disain salib latin yang berorientasi pada poros barat/timur. Nave
tunggalnya terdiri dari 7 teluk, memiliki panjang 124 meter dan tinggi 23 meter. Paduan suara
dikelilingi oleh dua lorong yang dibatasi oleh lima kapel yang memancar keluar dari
ambulatori. Tak banyak cahaya menerangi nave tengah. Untuk menopang beban berat
bangunan yang di bangun di atas tembok tebal sekitar 3 meter hingga 3,9 meter, diperlukan
penopang terbang yang mengesankan. Suasana begitu tenang walau banyak orang dari
berbagai negara dan beragam agama di dalam gereja. Aku lebih banyak duduk tenang
menundukkan kepala, sekedar bercerita tentang diri pada Tuhan. Apapun agamanya,
menurutku tak ada yang salah. Bagiku, Tuhan selalu hadir di kalbu kita. Kalau mereka
berbicara juga cukup saling berbisik. Aku memilih kursi paling belakang, duduk sesaat.
Kupejamkan mata menunduk meletakkan kalbu bercerita pada Tuhan pemilik semesta
tentang perjalananku hingga tiba di Cathedral. Aku biarkan semua mengalir termasuk air
mataku. Ada kesunyian yang menenangkan. Dia (Tuhan) yang tetap setia padaku, semua
yang diberikan baik suka, duka, cita, adalah murni dan punya alasan. Buatku, Dia tempat
bercerita yang paling aman dan nyaman. Biar Tuhan yang mencampuri urusanku, bukan
orang lain.
Tersenyum melangkah keluar Bordeaux Cathedral, berjalan ringan tanpa keraguan
hanya keyakinan, aku menuju halte bis untuk kembali ke rumah Bonobo. Apapun bisa terjadi.
Kesempatan ada hal luar biasa, menurutku. Bonobo memberikan pilihan untuk jangka waktu
dari model permainannya. Aku memilih jangka panjang, karena itu aku butuh analisa
sebelum beraksi. Melewati gerai penjual bunga, aku berhenti dan membelinya untuk diriku
sendiri. Tiga tangkai Daffodil, warna kuningnya lebih dominan, cerah, hangat, seperti
seorang sahabat yang lama pergi kemudian datang kembali. Ada keceriaan dan kegembiraan.
Aku membawanya dengan senyum ke dalam bis setelah makan siang.
@@@@@
Bonobo kembali ke rumah setelah hampir satu bulan di rumah sakit pemulihan. Ia
berusaha menunjukkan kekuatan pada setiap orang yang menemuinya. Walau efek dari
operasi besar dan strokenya jelas terlihat. Daya ingat untuk hal-hal kecil mulai menurun,
kemampuan motorik kasar pada tubuhnya menjadi berkurang banyak, bahkan beberapa bulan
awal setelah operasi stroke ringan sering datang menyerang. Setiap bertemu temannya ia
selalu bercerita panjang lebar tentang operasinya tanpa jeda hingga seperti biasa ludahnya
muncrat kemana-mana. Aku tetap tugur di sampingnya, mengambilkan tempat duduk sekedar
berjaga untuk tak jatuh. Kemudian setelah mendongeng, aku selalu menuntunnya masuk ke
rumah, karena pasti kehabisan energi, tak berdaya, dan harus duduk lemah di sofa. Setelah
minum air putih ia akan terlelap beberapa saat di sofa untuk memulihkan kembali sedikit
energinya.
Hari-hari Bonobo juga tak bisa jauh dari protes dan internet. Baginya, orang hidup
harus berani protes dan berperang. Dimanapun berada Bonobo pasti selalu ada keluhan
hingga rasa emosional. Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran dan keinginannya
akan menyebabkan voltase emosinya tak terkendali beberapa menit. Ia lebih banyak lupa
bahwa dunia bukan miliknya. Internet menjadi bagian sangat penting dalam hidupnya.
Karena alasan pekerjaan dan sosial media. Ia menjadi sangat menderita hingga memaki tak
terkendali jika internet mati. Aku cukup menanggapinya dengan senyum dan manggut-
mangggut.
“Sial internet mati! Saya tidak bisa jawab komentar di facebook!” ia mengumpat.
“Saya harus membalas wa dan internet tidak jalan!” sambungnya. “Facebook memblokir saya
lagi karena saya berkomentar tidak baik! Sangat tidak fair!! Saya akan pindah ke twiter!”
Bonobo mengumpat pada hari lain.
Aku cukup mengambilkan air putih, “Kamu itu cerdas luar biasa Bonobo, kenapa
kamu tidak bikin facebook dan punya satelit sendiri?” jawabku. Ia diam lalu minum air yang
aku ambilkan dan beranjak ke sofa untuk duduk beberapa saat.
Ketika kesehatannya bagus dalam beberapa jam, ia akan mengapresiasi, “Saya okay,
sehat dan energi bagus!” katanya setelah aku mandikan pagi hari.
“Okay, very good!” jawabku tersenyum sedikit sinis. Aku tahu dalam tiga jam energi
Bonobo akan habis lagi.
Perjalanan cintaku baru berjalan satu langkah ketika banyak kekhawatiran satu
persatu menjadi nyata. Belum tahu bagaimana aku mewarnai perjalanan cinta dengan
Bonobo, karena rasa di hatiku menjadi abu-abu. Ia mudah mendapatkan cinta, tak ingin
melepas atau mengakhiri hubungan begitu saja, sekaligus selalu ingin mendua.
Pembukaan pagi lebih sering runyam oleh pesan pendek dari mantan kekasihnya,
“Aku akan melahirkan tidak punya uang, pacarku tidak bertanggung jawab atas bayi yang
aku kandung.” Begitu isi drama Lily. “Hanya kamu yang aku punya dan bisa menolongku.”
Sambungnya ditambah ikon airmata dalam whatsapp.
Gendhis, aku hanya membantu Lily! Hanya aku yang dia punya!” Bonobo berteriak
membenarkan pendapatnya, tanpa ingin menghargai commitmen yang sudah di ucapkan
kepadaku.
Aku manggut-manggut tersenyum, “Boleh diceritakan..?” aku memancing santai
Pada akhirnya ia membuka aibnya sendiri bagaimana berakhirnya hubungan dengan
Lily itu karena juga ada perempuan lain. Lily memilih pergi tapi ada janji Bonobo untuk tetap
membantunya. Konflik yang berkaitan dengan perempuan lain selalu datang seperti rutinitas
buang air besar diantara kebaikan Bonobo kepadaku. Begitu mudah para wanita cerdas itu
mendapatkan uang tanpa harus menjadikan tulangnya lelah. Cukup merengek lewat pesan
pendek dengan polesan sandiwara, dan pengiriman uang akan berjalan menit itu juga. Rasa
tak nyaman itu pasti ada, aku mengakuinya. Selingkuh, adalah tetap menjadi sikap tak bijak,
apapun motif yang mendasari. Perbuatan serong selalu cenderung berulang dan berulang.
Aku layak bahagia dengan caraku. Entah, aku merasa menjadi tuli, buta, dan dungu.
“Apa sesungguhnya rencana Mu ya Tuhan..” hanya itu yang mampu aku ucapkan
ketika semua menjadi getir. “Tuhan, aku ingin tetap tersenyum dalam kasihmu..” aku
membatin, tersenyum berterimakasih untuk kekuatan diriku. Menelan dulu semua yang harus
aku telan sambil mengamati proses. Aku sudah memulai dan ingin menuntaskannya.
Hujan selalu membawa udara dingin, tak lupa menyisipkan cerita harum pada
goresan luka yang dibuat Bonobo untukku. Daun-daun hijau muda keluar seperti jamur,
menghadirkan keajaiban, mengusikku untuk tersenyum.
“Aku tidak ingin percaya Tuhan dan agama! Saya bekerja keras dan sukses, bukan
dari Tuhan!” kata Bonobo dengan dada membusung. Agama itu menyesatkan.” Tambahnya.
“Apakah dengan menyebut Tuhan ia akan turun membantu kita?? Tidak!” Bonobo selalu
memaki keberadaan Tuhan.
Ucapannya membuatku merinding, aku cukup menatapnya setiap ia melecehkan
Tuhan, tanpa berkomentar. Ia akan diam sedikit gelagapan ketika aku menatapnya tajam,
setelah itu pasti pergi meninggalkan rasa rentan pada matanya. Dalam keheningan, aku
mengingat cerita Bonobo bagaimana awal ia meninggalkan Tuhan, bahkan membencinya.
Berawal dari meninggalnya sang buah hati waktu bayi. Ada luka menganga begitu dalam dan
tak kunjung sembuh. Sejak itu ia menjadi tak percaya Tuhan, bahkan lebih sering
menantangNYA. Termasuk pelecahan dan penghinaan terhadap istrinya. Hingga sang istri
dan anaknya memlih pulang ke Perancis saat liburan di Bali. Bonobo melakukan semua yang
ingin dilakukannya, uang dan kepercayaan diri memegang kendali penuh.
“Engkau Maha tahu kekuatan Bonobo, Tuhan.” aku membatin dan tersenyum untuk
diriku, tak ingin membawa duka. Selebihnya aku sering melihat bagaimana Tuhan menjawab
keangkuhan Bonobo, bersamaan pula ia akan semakin tamak menantangNYA. Menjadi sifat
kebanyakan manusia yang menyerupai Bonobo, ketika Tuhan mendekat dengan caraNYA,
maka mereka lebih semakin congkak menantang NYA. Walau sesungguhnya hati kecilnya
meredup dan pilu.
@@@@@
Bonobo selalu mengajakku bertemu dengan teman-temannya. Mulai dari makan
siang, malam, dan menghadiri pameran mobil di Kota Bordeaux. Cerita sama selalu terucap
dari bibirnya, muai dari kesuksesan karir, hingga bagaimana ia bangga menjadi seorang
pejantan yang menolong banyak gadis muda di Asia, menidurinya, memanjakannya, bahkan
ia begitu bangga berbagi kisah bagaimana para gadis itu memoroti uangnya, tapi sekaligus
juga memperkenalkan aku sebagai pacarnya. Aku memilih tak bersuara, namun mempelajari
kebaikan, kekurangan, kelebihan, kelemahan, dan karakter mentalnya. Aku biarkan saat ia
merendahkanku secara berulang dan baginya itu wajar sekaligus benar.
Aku tak ingin tahu hati wanita, karena semua wanita rumit, saya hanya menyukai
tubuhnya.Ia berkata di depan teman-temannya yang hanya ditanggapi dengan anggukan
kepala. “Saya melakukan apa yang saya mau.” Bonobo sesungguhnya hanya memamerkan
ego yang kosong, karena sudah berulang terhina oleh wanita.
Selanjutnya, para temannya mendekat dan menepuk pundakku sekedar memberi
kekuatan. Mereka cukup tersenyum bersikap netral supaya tak ada konfrontasi. Walau
sesungguhnya ada sikap tidak suka dengan cerita Bonobo menyangkut perempuan lain.
Beberapa istri mereka memilih diam tapi sinis mendengar cerita Bonobo. Wajar, kalau
kemudian para istri punya kekhawatiran suaminya dekat dengan Bonobo.
Aku semakin ingin mengenalnya, walau adukan rasa sakit sering membuat sesak.
Tetap masih ada sisi baik dari manusia termasuk Bonobo. Ia mencukupi kebutuhanku dengan
baik dan bertanggung jawab, kala itu. Mudah terketuk hatinya untuk menolong orang, walau
yang diutamakan adalah menolong para gadis muda yang butuh uang. Tak tahan apabila ada
kaum wanita yang merengek untuk dibantu. Ia punya otak encer serta pengetahuan luas, daya
ingat masa lalunya masih kuat. Hanya hal kecil yang lebih banyak lupa.
Gendhis, aku lupa kunci mobil dimana? Aku lupa kapan ada janji dengan Fred?”
begitu dan lainnya.
“Ini kunci mobil, dan kita ada janji dengan Fred besok lusa jam 11 siang.” aku selalu
teliti. Lalu Ia akan tertawa.
“Aku Sudah lupa semua.” Bonobo berkomentar.
Menurutku, ia tetap seorang yang baik dengan sisi kekurangannya kala itu, dan belum
melampoi batasan. Bonobo tak henti menginginkan perempuan muda menjelang
kematiannya, sulit untuk mengaku salah walau sesungguhnya sudah malu. Lebih berpikir apa
yang dilakukan adalah benar, perasaan wanita menderita atau tidak, tak penting. Selama
menguntungkan dan bisa membahagiakan hatinya, ia akan jalankan. Tak ketinggalan, selalu
membutuhkan pengakuan hebat dari semua orang. Laki-laki yang duduk di atas tahta
kehebatan, biasanya akan runtuh hanya karena kerlingan mata wanita.
Ketika ada hal kecil yang mengganggu ketenangannya berkaitan dengan perempuan
lain, ia akan berkata, “Saya mau hidup tenang dan bahagia. Mereka yang harus mengikuti
saya!Katanya. “Saya tidak mau diganggu dengan hal yang tak sejalan dengan pikiran saya!
Katanya dengan dada membusung, walau sesungguhnya ia lebih banyak terpeleset dengan
kotorannya sendiri.
Punya penciuman yang baik dalam banyak hal, cukup menguntungkan bagiku. Aroma
saat Bonobo menyembunyikan hubungannya dengan gadis-gadis lain sangat mudah terditeksi
oleh firasatku dan benar. Selanjutnya ia akan terbata-bata membela diri, lalu berbalik
menyalahkanku. Sudah menjadi bagian sifat makhluk untuk bertahan ketika kebohongan
perselingkuhan terbongkar adalah berteriak tidak. Raga Bonobo dekat denganku namun
hatinya jauh berkelana. Dengan bangga selalu bercerita dan menunjukkan foto-foto telanjang
dari gadis-gadis yang baru di kenalnya. Menata ekspektasi kembali rasanya lebih bijak
untukku.
Gendhis! Krisan, Melati, Camelia, Pansy, baru saja kirim pesan padaku dan
mengirimkan video dan foto telanjang, mereka masih 20 tahun.Kata Bonobo berbinar
tertawa sambil menunjukkan foto-foto bugil dan isi pesan WA dari bunga-bunga baru. Aku
melihatnya dan mencoba tetap tenang, menarik nafas ringan.
“Wooww sungguh seksi, mudah-mudahan kamu tidak pedofil.” Aku berkomentar
sedikit menampar.Boleh ceritakan lebih banyak tentang mereka yang cantik ini?Aku
memancingnya dan bertaruh umpanku pasti di telannya. Aku tak ingin mendramatisir
keadaan, karena itu aku lebih berempati pada Bonobo yang meremehkanku. Dibalik dirinya
yang merasa paling hebat, sesungguhnya mentalnya cukup lemah. Ia selalu mengikuti saran
atau menjawab pertanyaan apapun dan dari siapapun tanpa mempertimbangkannya, karena ia
membutuhkan sanjungan, hal yang memudahkan siapapun untuk tergelincir.
Kemudian Bonobo bercerita tentang asal-usul photo-photo dan videos bugil bocah-
bocah belia itu, berasal dari negara Asia. Cukup detail tanpa editing, hingga bagaimana dia
menghubunginya, rentang waktunya, hingga berapa ia selalu mengirim uang pada mereka.
Aku menanggapi datar tanpa meledak, mengabaikan tusukan ilalang dalam kalbu. Tak sadar
ia membuka kebohongannya sendiri.
“Luar biasa ya, kamu bisa mengenal mereka yang sexy-sexy itu..” aku sedikit
menamparnya.
“Aku nggak tahu, tiba-tiba mereka menghubungiku!” jawabnya dengan teriak,
matanya melihat kiri kanan, wajahnya memerah, marah, karena kebodohannya sendiri. Aku
tertawa kecil melihat kebohongannya lalu pergi mengambilkan air putih untuknya agar tidak
kena serangan stroke. Ia diam sambil minum air putih menahan malu. Setelah meletakkan
gelas di meja bar,
“Ingat, Gendhis! Saya laki-laki baik dan saya ingin mereka tahu saya baik pada
mereka karena suka menolong.” Ia berkata sebelum masuk ruangan komputernya, untuk
transfer uang dari video dan photo yang diterimanya. Aku hanya tersenyum lebar karena
memang sudah tak bisa berkomentar, dan membingungkan menurutku.
Aku merelakan hal-hal diluar kendaliku, tapi bukan kebohongan seperti ini. Bonobo
rupanya hanya menginginkan cinta dari daging, tubuh, payudara, dan vagina. Ini soal saling
menghormati, aku tak tahu harus berdiri dimana, tapi harus ada yang aku lakukan dengan
semua kemampuanku. Tekanan yang terjadi terus menerus pada umumnya selalu memberi
kekuatan special bagi seseorang untuk bertahan dan membuat rencana ampuh bahkan
beracun. Bonobo telah membuat dan memulai permainan di trek cinta miliknya dengan
segala intrik tidak baik padaku. Rasa nyeri menoreh bertahap tak sempat mengering bersama
menumpuknya sayatan. Semua kalimat kasar dari mulutnya memunculkan kekuatan tak
terdjuga dalam diriku.
Di luar apartment, aku memandangi tanaman-tanaman cantik yang aku rawat, dan
menarik nafas panjang. Aku akan memanfaatkan tekanan dari Bonobo untuk keuntungan
dan pertumbuhan diri.Aku bangkit dan tersenyum untuk diriku.
Aku mengamati dan memutuskan. Mengubah amarah menjadi motivasi untuk
mengatur strategi. Kalau kita punya alasan untuk hidup, mestinya aku bisa menanggung
hampir semua beban yang muncul kemudian. Bonobo ingin membuatku runtuh, aku harus
membaliknya dengan lebih manusiawi hingga ia terjerembab. Memilih anti rapuh, menjadi
pemburu yang sabar sekaligus menakutkan untuk dia sejak hari itu. Bonobo harus dan bakal
semakin bergantung padaku, tak berdaya seperti terlilit piton karena ia menganggapku rendah
dan lemah. Biarkan semua kulakukan atas dasar cinta, pelecehan, perundungan, dan
perusakan mental. Hati, jiwa, dan hasratku tercurah untuk kasih dan luka. Aku tak ingin
melihat siapa yang menjadi pemenang dan kalah, tapi aku lebih ingin melihat bagaimana
proses Bonobo melemah dalam banyak situasi, keuangan, fisik, atau menyaksikan bagaimana
ia bertobat. Suatu hari pada suatu titik kebejatannya pasti berakhir. Tidak ada sesuatu yang
sifatnya abadi atau selamanya termasuk baik dan buruk.
“Aku tak akan mundur, Bonobo..” batin dan mataku sinis, namun senyumku manis
padanya.
Hariku berlalu dengan merawat Bonobo dari urusan tempat tidur, dapur, mengatur
makanannya, membersihkan badannya hingga sela-sela, membersihkan rumah hingga
bajunya, menemani berdiskusi dan pergi kemana saja, menuntunnya dengan baik ketika
stroke menyerang, mengangkat barang dari gudang yang satu ke gudang lain. Memberinya
perhatian dari hal kecil, sedang, hingga besar, hampir tak pernah ada kesalahan. Aku
memberi kesetiaan dan kasih, aku harus jadi poros hidupnya, hingga aku benar memahami
pemikirannya, membaca gerakannya, dan instingku benar. Aku berikan empati yang sebesar-
besarnya untuk ia yang menyakitiku. Apakah aku akan membebaskan dia dari dendam? Aku
belum tahu. Aku belum terhubung dengan jiwa Bonobo karena ia menjungkir balikkan
semua. Naluri menuntunku ketika sudah terhina terus menerus.
“Dengan baju ini kamu akan kelihatan menjadi pejantan tangguh.” Seperti itu
sanjunganku sambil memilihkan baju untuknya. “Biar aku yang memesan makanan, kamu
duduk dan istirahat.” aku memintanya untuk istirahat setelah menyetir kira-kira satu jam
dengan perhatian extra.
Cantik tanpa ingin berdebat. Kutumpahkan pemujaan setinggi langit dalam hal
apapun tanpa ingin mengkritiknya. Dalam sekejab, ia akan membanggakan diri hingga lupa
bumi berpijak. Ketika pujian setinggi langit terucap, sesungguhnya itulah pura-pura, jangan
lengah dengan jebakan yang penuh leleran madu. Aku tetap bekerja dengan kasih dan
professional seperti rencana dalam otakku, menghipnotis Bonobo dengan gaya lembut yang
memabukkan, hingga semakin tergantung padaku balam banyak hal. Kadang kita harus
merelakan pilihan kita sendiri. Aku diam untuk menghargai diriku ketika perselingkuhan
terus berjalan. Sudah menganggap diriku patah hati, menerima untuk melihat. Kita tak pernah
sendiri. Sikapku yang tetap hangat dan penuh kasih cukup memberinya rasa takut aku pindah
ke lain hati dan dari gerak geriknya sudah terlihat jelas walau tak dia ucapkan. Ia mulai
menjaga tindakannya agar tak membuatku sakit atau kecewa, walau pikirannya tetap berubah
setiap jam tentang banyak hal alias plin plan.
Gendhis, hari ini kita makan siang di restaurant lalu belanja kebutuhan makan dan
lainnya.” Bonobo juga ingin membuatku senang. Hampir seminggu tiga kali aku dan Bonobo
pasti makan di restaurant. Hampir tak ada penolakan ketika aku menginginkan hal-hal wajar
dan masuk akal sehatnya. Terkadang aku dibawa ke Kota Bordeaux. Kesempatan berlian itu
tak pernah aku lewatkan tanpa membawa hasil positif. Aku membuat foto elok menggunakan
camera Bonobo, juga membuat videos, menulis artikel, lalu mengirimnya ke majalah travel,
selanjutnya mereka membayarku.
“Kamu luar biasa punya keahlian lain.” Bonobo sempat bingung karena tak mendjuga
aku punya skill untuk fotografi.
Aku cukup tersenyum, “Terimakasih.” Jawabku pendek. Maaf aku belum ingin
mempercayai kembali lidahnya karena ia belum menginginkan untuk berubah. Apalagi
ucapan luar biasa. Bonobo punya trik dan rencananya sendiri. “Tunggu beberapa jam atau
dua hari, kamu akan merendahkanku kembali.” Aku membatin dan ingin menunjukkan
kemandirianku.
Bagi Bonobo, uang, kesuksesan, dan harta, menjadi kebanggaan dalam setiap
langkahnya, menjadi derajat yang abadi. Tak ingin melibatkan Tuhan dalam perjalanan
hidupnya, walau pernah mempelajari dan mengenalnya. Aku tak ingin menjadi hakim benar
atau salah, apalagi ia lahir sebagai orang Perancis. Kemapanan menjadi sebuah kesombongan
legal. Budaya dan pola berpikir yang sudah di tingkat intermediate menjadikannya sebagai
bangsa dengan nilai tinggi termasuk manusianya. Membeli kesenangan diri termasuk wanita
sama halnya seperti membayar mainan di warung, dan menjadi hal biasa bagi Bonobo.
Sementara, budayaku lebih menyeimbangkan kekuatan Tuhan bersamaan olah pikir. Ada
garis tata krama dan karma. Tak perlu membandingkan dengan tajam, atau memberi kritikan
paling benar. Ada hal yang harus di junjung tinggi dimana kita berdiri. Terkadang aku lebih
suka menggabungkan keduanya untuk lelakon hidupku.
“Ini uang saya, Gendhis! Itu hak saya mau memberi perempuan siapapun!”
angkuhnya Bonobo ketika banyak uang suatu hari.
Aku menatap tajam matanya dan membatin,”Tunggu saatnya, ketika kamu menjadi
kekurangan uang.Aku tersenyum tipis tanpa ingin menjawab, mencoba tidak tersinggung
dengan ucapannya, lalu beranjak dari tempat dudukku. Ia hanya bereaksi diam menunduk
seperti menyesali perkataannya.
Mengalah, diam, dan memberi kekuatan diri sendiri menjadi cara bertahan yang baik
buatku. Setiap hari aku membuat catatan positif dari yang aku lewati. Menghibur diri dengan
menulis ketika rasa tak nyaman mendera sesak. Tulisan menjadi sahabat baikku, bukan
berarti aku harus menyesali, ketika kelak aku membacanya lagi, atau takut muncul kembali
emosi negatif. Sejarah adalah sejarah. Terkadang aku di kebun membersihkan rumput liar
sambil minum kopi sekedar memulihkan segala rasa rusuh. Masih ada banyak hal yang bisa
di koreksi. Bangun dini hari duduk bersama sunyi menyapa dan berbincang dengan Tuhan,
bertanya, dan berbincang, menjadi hal sangat indah buatku.
“Hari ini aku masih bisa menikmati keindahan dari kehidupan di Perancis, makanan
yang aku Terima lebih dari cukup, kebutuhan anakku kuliah masih aman, ada tempat layak
untuk tinggal, serta ada jaket dan sweater untuk menghalau udara dingin.” mensyukuri semua
yang aku terima dari Tuhan membuat jiwaku seimbang.
Di sisi lain, ia selalu membanggakan aku di depan banyak temannya, sebagai wanita
yang ia nginkan, pintar, mengerti keinginannya tanpa ia bicara, selalu membanggakan pada
banyak orang bagaimana aku merawatnya. Sekaligus menganggapnya aku sudah tua. Bonobo
lupa kalau dirinya jauh lebih tua 16 tahun di atas umurku ditambah sudah operasi jantung,
sesekali stroke ringan menyerang serta gerak badannya sudah tidak seimbang lagi. Aku
bergerak mengikuti hari dengan kesibukan spektakuler. Banyak hal baru dihadapanku mulai
dari keunikan pameran mobil, melihat tempat-tempat sejarah, alam nan menawan, berkumpul
dengan teman-teman Bonobo adalah hal menyenangkan. Satu lagi, bahasa Perancis menjadi
tantanganku untuk mempelajarinya. Aku tak mengabaikan sisi memukau di depanku dibalik
perselingkuhan Bonobo yang tak akan usai.
“Seberapa kuat pertahananmu untuk menyakitiku?! Semua ada batas, Bonobo..” aku
membatin kuat dan meyakinkan diri kian tak menyerah.
@@@@@
Visa tiga bulan pertamaku sudah hampir habis. Aku sudah bisa membaca situasi yang
hendak terjadi pada Bonobo ketika aku kembali ke Indonesia. Bursa photo atau video
telanjang para gadis-gadis baru pasti meramaikan computer dan hp nya. Selanjutnya pasti
muncul no rek baru dalam pengiriman uang berikutnya. Aku tak ingin membuat pikiran dan
mentalku menjadi pelik. Membiarkan semua mengalir membuat pikiranku menjadi lebih
bening. Ada rasa ketergantungan Bonobo yang sudah kulilit kuat. Kehidupan itu seperti galeri
hutan. Menawarkan banyak ruangan, bertahan tetap waspada, mengalah, lalu menyerang.
“Aku membutuhkanmu untuk banyak hal, segera kembali, please.” Demikian
pintanya. Aku mencintaimu.” Katanya. Aku tersenyum hambar.
“Aku akan segera kembali begitu visa selesai.” Jawabku tersenyum yang tak lagi
percaya lidahnya, aku memeluknya tanpa rasa. “Kamu akan semakin tergantung kepadaku..”
aku membatin.
Aku tak ingin meninggalkan pekerjaan yang memberatkan Bonobo ketika kembali ke
Indonesia, karena dirinya memang masih lemah dan sering lelah. Berualang stroke ringan
selalu menyerang. Ada ketulusan dari kalbuku untuk merawatnya dan itu tak bisa kulawan.
Hal itu justru memberi keuntungan buatku, artinya tetap ada kasih dalam diriku. Kasih,
terkadang mampu melemahkan lawan, membuat mereka berani bertanya pada sisi batinnya
yang terdalam.
“Taman, gudang, baju, rumah, kamar mandi, semua sudah rapi.” Aku menjelaskan
padanya. “Baju harian yang kamu pakai ada digantungan sebelah kiri.” Sambungku. Ia hanya
diam dan berkaca-kaca matanya.
“Terimakasih, kamu sedah melakukan semua untukku.” Katanya begitu. “Segera
kembali, aku tak bisa hidup sendiri, aku membutuhkanmu.” Tambahannya. Aku tak ingin
hanyut dengan haru biru kalimat dari mulutnya. Dalam hitungan jam ia akan menderita pikun
dengan ucapan dan tindakannya.
“Jangan khawatir, aku pasti segera kembali.” Jawabku santai. “Ucapanmu lebih
banyak seperti bau mulutmu, busuk.” Aku membatin, lalu memeluknya dan mencium
bibirnya tipis sekedar meyakinkan aku harus kembali. Ia memelukku erat. Entah apa yang
ada dalam pikirannya, aku tak tahu.
Aku tak mau frustasi mengejar judul kebahagiaan. Aku lebih suka mencari alasan
untuk bahagia. Kebahagiaan menurutku begitu rapuh. Cukup menjalani kehidupan yang
rasional dan bermoral, hasil sampingnya adalah bahagia.
Beberapa hari kemudian, Bonobo mengantarkan ke bandara Bordeaux. Aku cukup
membawa kebutuhan satu kopor kecil, karena memang tak lama di Indonesia. Dihadapanku
ia tampak kebingungan, gelisah, pikirannya kosong,
“Jangan lupa memberi kabar tentang perkembangan visa.” Katanya. “Itu sangat
penting buatku.” tambahnya. Matanya sedikit berkaca-kaca ketika memelukku di pintu
keberangkatan. Hatiku sudah mengeras, aku tak ingin memaklumi karena harus ada yang
berubah. Firasatku tajam akan ada hempasan yang akan terjadi. Aku memeluknya erat,
sengaja membangun dinding tebal dan tinggi supaya Bonobo salah presepsi terhadapku. Aku
bergerak seperti bayangan.
@@@@@