Aku memilih tak berkomentar. Lembut dan kuat memegangi tubuhnya untuk tak
tersungkur. Emosinya meluap tinggi kemudian mereda sendiri, tak lama. Grafik jiwanya
seperti jet coaster. Meledak seperti bom, menurun tak terkendali, rata tanpa reflek, berubah
setiap putaran, terkadang tak tertebak. Suasana hati, pikiran, dan mulutnya bisa bergeser
dalam hitungan menit. Setelah itu semua kembali normal seolah tak terjadi apa-apa.
Menganggap semua yang dilakukan benar.
Segala kebutuhan Bonobo sebelum operasi sudah aku masukkan ke dalam kopor
kecil. Mengenal lingkungan sekitar dan bertemu dengan beberapa teman Bonobo menjadi
agendaku sebelum ia masuk rumah sakit. Ia pemberi arahan yang baik, detail, jelas, dan
cerdas, walau pikirannya mudah berubah. Aku menghargai pola berpikirnya untuk hal-hal
tertentu.
“Gendhis, kamu bisa pergi belanja dan ke rumah sakit pemulihan menggunakan
sepeda.” Ia menjelaskan dan menyiapkan sepeda untukku. “Jean akan membantu
menunjukkan jalan dan jalurnya menggunakan mobil, kamu tinggal mengikutinya.”
Sambungnya. Aku memperhatikan detail instruksi dari Bonobo, supaya tak ada kesalahan.
Menurutku, Bonobo membutuhkan sosok cerdas untuk menangkap pikirannya.
Sementara dalam catatanku, gadis-gadis muda yang pernah menjadi kekasih diatas tempat
tidurnya rata-rata bersekolah hingga kelas 4 SD, kadang tak bisa baca tulis, tak bisa bahasa
Inggris, dan susah mencari kalimat yang pas agar sambungan pembicaraan jelas. Dari sini,
aku semakin belajar menghormati kepintaran dan kelebihan mereka. Mereka memainkan
kartu dengan cukup apik melebihi Bonobo. Mereka mendapatkan semua keinginannya, tanpa
harus meremukkan tulang, hingga selalu menjadi ratu disamping Bonobo ketika menjadi
kekasihnya. Kecantikan dari dalam itu seperti bunga, dan tentu saja berbeda satu dengan
lainnya, dan menjadi keunikan dari setiap wanita itu sendiri.
Aku diam beberapa saat, “Siapa sesungguhnya yang ahli dalam seni kisah kasih ini?”
Aku membatin sekaligus tersenyum lebar.
Ada dua sisi berjalan dengan ketinggian yang sangat signifikan. Satu sisi Bonobo
cukup cerdas dan pintar secara otak, kemudian secara harafiah ia membutuhkan gadis muda,
dengan bentuk menarik, punya vagina, dan payudara, tak peduli apakah mereka bisa baca
tulis atau tidak. Berapa lama perbedaan ketinggian itu akan bertahan dan kemudian kapan ada
titik saling menimpa dan jatuh. Entah siapa yang tertimpa dan merasakan perih. Aku berpikir
beberapa detik, namun tak ingin menyimpulkan Bonobo dengan seluruh bekas kekasihnya
termasuk sang istri yang hatinya masih remuk.
“Saya nggak peduli dengan uang. Yang penting saya bisa memeluk tubuh sexi dan
menjilati vaginanya.” ucapnya berulangkali, menyembunyikan kerentanan karena egonya
sendiri. Aku melihat dengan jelas sorot matanya, Indera yang tak bisa bohong dan dibohongi
itu. Ia lebih banyak mengeluarkan uang dan jarang menjilati vagina sang wanita pujaan,
karena para gadis muda sesungguhnya geli dengan Bonobo yang sudah tua. Aku menatapnya
halus. Ketika ego ditempatkan semakin tinggi, sebenarnya ada rasa nyeri yang ditutup-tutupi.
Selalu ada sesuatu dibalik permukaan, aku biarkan otakku menyimpannya dulu.
Aku menjadi wanita karir luar biasa sibuk entah menulis, mengurus rumah, memasak,
berkebun, mencuci, memandikan Bonobo, menemani nonton film, dan lain-lain. Jam kerjaku
tak terbatas, tapi aku senang. Kala itu ada kedamaian yang tak bisa ditakar. Aku juga menjadi
pendengar yang baik ketika ia susah berhenti bercerita tentang rantai hidupnya, bagaimana
membangun mobil untuk balapnya, menjadi wartawan hingga menjadi pemilik majalah
olahraga besar, dan bertemu dengan pembalap-pembalap ternama.